Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

BEBERAPA PERUBAHAN PENTING

Periode misi di NTT dianggap sudah berlalu. Gereja sudah berdikari dibawah pimpinan Uskup setempat. Agama di Flores sudah menjadi agama rakyat. SVD di Flores mulai mencari spesialisasi karya yang sesuai dengan kharismanya. Juga membantu karya kerasulan dalam diosis-diosis lain di Indonesia dan di luar Indonesia berdasarkan kontrak kerja. Maka Provinsi Ende:

1.  Sejak tahun 1969 membantu di Sorong, Papua di keuskupan Manokwari.
2. Membantu di paroki Wonokromo, keuskupan Surabaya.
3. Tahun 1972, mulai bekerja di paroki Jatinegara, Jakarta

Sejak awal 1973, para bruder novis bergabung dengan para frater novis di Ledalero selama setahun.
   
18 November 1972, Uskup Paulus Sani Kleden, SVD, Uskup Denpasar meninggal dunia. Karena itu Uskup Larantuka, Mgr. A. Thijssen, SVD, Uskup Larantuka pindah jadi Uskup Denpasar (23-02-1973).  Tahun 1973-1974, terjadi perubahan pimpinan wali gereja di Nusa Tenggara:            
P. Vitalis Djebarus, SVD jadi Uskup Ruteng 17 Maret 1973, menggantikan Mgr. Wilhelmus van Bekkum, SVD.
P. Darius Nggawa, SVD jadi uskup Larantuka 28 Pebruari 1974, menggantikan Mgr. A. Thijssen, SVD.
 

Tahun 1977 :
Kapitel General SVD.
P. Heinrich Heekeren, SVD, utusan Kapitel dari Provinsi SVD Ende dipilih jadi Superior General. Ia mengenal baik situasi misi dan gereja di Nusa Tenggara. Dalam visitasinya ke Indonesia, ia mengingatkan para uskup se-Nusa Tenggara, bahwa SVD Indonesia harus rela melepaskan pekerjaan tradisionalnya dan beralih kepada profesinya yang khas sesuai dengan kharismanya.
Semua regio di Indonesia menjadi Provinsi. Sejak itu sampai sekarang wilayah kerja Provinsi SVD Ende meliputi Kabupaten Bajawa, Nagekeo, Ende, Sikka, Flores Timur, Kabupaten Lembata, Kepulauan Ambon dan Papua Bagian Barat. 

Tahun 1978, Rektorat Boawae dihapus
17 Oktober 1979, diangkat seorang Direktur Nasional untuk kepentingan pendidikan para bruder SVD di Indonesia
Sejak 1979 para misionaris asing dilarang masuk ke Indonesia. 
30 Desember 1980, Pulau Alor dan Pantar diserahkan Ende ke Timor
Bulan Mei 1983, Diosis Larantuka menyerahkan sebuah paroki ke SVD
09 Oktober 1987, Seminari tinggi St. Paulus Ledalero merayakan 50 tahun berdirinya sejak 1937
Dalam tahun 80-an, terjadi perubahan struktur hierarki, sehubungan dengan keterlibatan anggota SVD dalam kepemimpinan Gereja lokal. 


Kegiatan-kegiatan yang menjadi perhatian SVD adalah komunikasi sosial, mass-media, pendidikan, dll.

Perhatian untuk misi luar negeri dimulai pada tahun 1984, dengan dikirimnya 2 misionaris pertama SVD ke Papua New Guinea (P. Severinus Pambut, SVD dan P. John Don Bosco Tou, SVD), lalu menyusul 2 ke Philipina Selatan (P. Petrus Keban, SVD dan P. Donatus Sermada Kelen, SVD) dan dan 1988, 4 misionaris dikirim ke Madagaskar di Diosis Mananjary, yaitu P. Yosef Tote Wae, P. Antonius Beki Kedang, P. Pius Pandai Dosi dan P. Aleksander Dhae.
Namun P. Bill Burt, SVD (mantan Provinsial Australia) membantah pendapat ini. Menurut beliau Indonesia dalam hal ini Provinsi SVD Ende sudah mengirim misionaris ke luar negeri jauh sebelum itu. Beliau menyampaikan bahwa tahun 1976, Provinsi Ende mengirim dua (2) bruder muda untuk bekerja di Australia, di peternakan KELLYVILLE, Sydney. Mereka adalah Br. Nikolaus Nggawa dan Br. Laurens Wisang, SVD.

PROGRAM OVERSEAS TRAINING PROGRAM (OTP)

Salah satu keputusan penting dari Kapitel Jenderal ke-13 yaitu menyerukan setiap provinsi SVD untuk menyusun program praktek pastoral misioner terbimbing lintas budaya bagi para formandi di negara atau kebudayaan lain yang sering dikenal dengan sebutan Overseas Training Program (OTP). Menjawabi resolusi SVD sejagat, Provinsi SVD Ende telah membuka kemungkinan bagi para formandi SVD dari luar Indonesia untuk mengalami suatu pengalaman pastoral misioner dalam budaya dan bahasa Indonesia, bahkan terbuka juga untuk melanjutkan studi di STFK Ledalero dan formasi di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero dan Biara Bruder St. Konradus, Ende. Baca selengkapnya.