Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

PEMBENTUKAN WILAYAH MISI, REGIO DAN REKTORAT

Agustus 1945 Perang Dunia II berakhir.  Pater Regional Y. Bouma, SVD, 82 pater dan 7 bruder kembali dari pengasingan menjelang Natal 1945, yang lainnya menyusul kemudian. Suatu masa baru dimulai. Masa kemerdekaan. Merdeka dari pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang.

 

Dalam kurun waktu 5 tahun, sampai 1950, Generalat SVD mengirim lagi misionaris: 78 pater dan 9 bruder ke Indonesia. 6 imam pribumi ditahbiskan lagi.

 

Dalam masa kemerdekaan ini, dimulai era baru bagi perkembangan karya SVD di Indonesia. Diadakan pembentukan wilayah-wilayah misi baru sesuai dengan perkembangan umat dan penambahan jumlah anggota SVD.

Tanggal / Tahun & Keterangan

  • 4 Nopember 1947, Sebuah region baru SVD dibentuk di Timor dengan 2 rektorat wilayah: Belu dan Dawan

  • 10 Juli 1950, Takhta Suci mendirikan lagi Prefektur Apostolik Denpasar untuk Bali dan Lombok dengan P. H. Hermens, SVD sebagai Prefek Apostoliknya, 20 Juli 1950

  • 8 Maret 1951, Vikariat Apostolik Kepulauan Sunda Kecil dibagi menjadi 3 Vikariat Apostolik: Ende (Ende, Ngada dan Sikka – termasuk Sumba dan Sumbawa) dengan P. Anton Thijssen, SVD sebagai Vikaris Apostolik (Ruteng -Manggarai dengan P. Wilhelmus van Bekkum, SVD sebagai Vikaris Apostolik, Larantuka - Flores darat dan pulau-pulau: Adonara, Solor, Lomblen-Lembata, Alor dan Pantar dengan P. Gabriel Manek, SVD sebagai Vikaris Apostoliknya. Sejalan dengan kebijakan Takhta Suci, wilayah misi SVD di Nusa Tenggara (nama ini diberi oleh Menteri P & K, Muhammad Yamin tahun 50-an), mengalami perubahan struktur kepemimpinan.

  • 10 April 1951, Komunitas SVD Seminari Menengah Hokeng mendapat seorang rektor rumah.

  • 12 Desember 1951, pulau Lomblen-Lembata menjadi rektorat wilayah khusus: Rektorat Lomblen.

  • 9 Januari 1953, Generalat SVD menentukan seorang procurator untuk regio Flores.

  • 26 Mei 1953, Generalat SVD menerima paroki Jatinegara dan dimasukkan kedalam Regio Flores-Ende.

  • 5 Juni 1953, Rektor SMAK Syuradikara-Ende.

  • 1954, dibuka dibuka resmi kantor prokurator SVD dan rumah penginapan bagi para konfrater yang mempunyai berbagai urusan/kepentingan di ibu kota Negara, Jakarta.

  • 4 Mei 1954, Rektor  biara St. Yoseph Ende

  • 16 Agustus 1955, Seorang imam SVD diangkat untuk menjadi prefek imam diosisan di Ledalero.

  • 27 Agustus 1955, didirikan dan diresmikan  rumah novisiat untuk para  bruder St. Konradus-Ende.

  • 2 September 1955, seorang imam pribumi SVD menjadi dosen di Seminari Tinggi Ledalero.

  • 1957, Semua misionaris SVD dipindahkan dari Sumba-Sumbawa ke misi SVD di Flores. Dengan ini pula rektorat SVD di Sumba-Sumbawa dihapuskan.

  • 17 Mei 1957, diangkat rektor rumah biara St. Konradus Ende

DENGAN DEMIKIAN, MENJELANG TAHUN 60-AN, WILAYAH MISI SVD SUDAH MENCAKUP HAMPIR SETIAP PELOSOK KEPULAUAN NUSA TENGGARA. KETIKA SVD MERAYAKAN 50 TAHUN KARYA-NYA TAHUN 1963, STRUKTUR KEPEMIMPINAN WILAYAH SUDAH RAMPUNG TERORGANISIR.  PADA TAHUN 1963 INI juga, REGIO FLORES DIBAGI LAGI MENJADI Regio paling barat – Manggarai – membentuk sebuah regio baru (Regio Ruteng).

10 Mei 1960, diangkat seorang Praeses untuk seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret.

 

1961 , dibuka juga prokur SVD di Surabaya.

 

13 Mei 1963 -1966 , Regio Flores (karena sudah bagi dua – Ruteng) berubah namanya menjadi REGIO ENDE. Regio Ende (Ngada, Ende-Lio, Sikka, Larantuka dan pulau-pulau = Adonara-Solor-Lomblen-Alor-Pantar) membagi lagi wilayah misinya menjadi  Rektorat wilayah Adonara, Kewapantai dan Nagekeo. selanjutnya Pembentukan Hirarki Gereja