Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

MASA PERANG DUNIA II DAN SESUDAHNYA

Perang Dunia Kedua yang berawal dari Eropa tahun 1939 dan meluas sampai ke Asia tahun 1940, membawa dampak khusus untuk karya misi SVD di Indonesia. Ketika di Eropa, Jerman sebagai pencetus perang menyerbu negara tetangganya Belanda, maka pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, terlibat dalam politik anti Jerman dengan menangkap dan menginternir semua orang berkebangsaan Jerman, termasuk para misionaris SVD Jerman. Bulan Mei 1940, 38 pater dan 16 bruder SVD Jerman meninggalkan tempat tugasnya, dibawa ke Sumatera dan selanjutnya dibuang ke India. Kemudian Jepang masuk menjajah Indonesia. Para misionaris khususnya Belanda diinternering ke Makasar, Sulawesi kecuali Mgr. Hendricus Leven, P. Heiden dan beberapa misionaris lain yang sudah tua dan sakit.

Tanggal/tahun dan keterangan :

  • 1940, Perang Asia Timur Raya.

  • Mei 1942, Jepang mendarat dan menguasai kepulauan Nusa Tenggara. Akibatnya untuk gereja: semua misionaris berkebangsaan Eropa ditangkap dan ditawan. Para misionaris SVD diperintahkan untuk berkumpul di Ndona-Ende.

  • 15 Juli 1942, Para misionaris berlayar ke Sulawesi. Hanya beberapa misionaris Jerman – termasuk suster - yang sudah lanjut usia (Uskup H. Leven, SVD dan 5 pater dan 6 bruder) diijinkan tinggal untuk bekerja terus demi kepentingan Gereja, khususnya bagi pendidikan para calon imam bangsa Indonesia dan untuk urus hal-hal vital lainnya: perkebunan, kehewanan, perbengkelan, dll. Pater regional Y. Bouma, SVD ikut pergi. Dia menyerahkan tugas memimpin regio Ende-Flores kepada 2 pater Jerman. Kekurangan tenaga imam untuk melayani jumlah umat yang semakin banyak, dialami dimana-mana. 

  • 15 Agustus 1942, ditahbiskan lagi 2 frater pribumi. Mereka inilah yang diserahi tugas untuk menjelajahi wilayah-wilayah yang luas.

  • 29 Juni 1943, 4 bruder novis pribumi pertama diterima di novisiat SVD Ledalero.

  • 12 Desember 1943, Seorang Frater lagi ditabhiskan menjadi Imam (alasan situasi perang, walau dia belum menyelesaikan studi teologinya).

  • 29 Juni 1945, 3 dari keempatnya mengikrarkan kaul pertamanya. 

  • 16 September 1945, 6 Frater ditabhiskan menjadi Imam (alasan situasi perang, walau mereka belum menyelesaikan studi teologinya).

Selama masa krisis ini, PERANAN KAUM AWAM, khususnya PARA GURU DI SEKOLAH-SEKOLAH DAN GURU-GURU AGAMA sangat besar dalam melanjutkan tradisi iman: pengajaran agama lewat katekismus dan doa-doa dan untuk menjaga kehidupan rohani umat yang masih sangat muda. Peranan ini sangat dirasakan di daerah-daerah terpencil dan yang jarang didatangi imam.

 

Secara keseluruhan, akibat Perang Dunia II, regio SVD Indonesia sudah kehilangan 42 misionaris: 26 imam dan 7 bruder meninggal dunia, sedang 7 imam dan 2  bruder tidak kembali dari pembuangan.