Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

“HIDUP ADALAH SOAL KEBERANIAN, MENGHADAPI TANDA-TANYA”

Homili dalam Perayaan Ekaristi Pemakaman Piet Nong Lewar, S VD [Dibawakan di samping jenazah almarhum]

March 31, 2017

Teman Piet, kali terakhir kita ketemu di Wisma Simeon, sehari sebelum Piet dibawa ke Kewapantai, lantas ke Surabaya, Saya sentuh kakimu, pegang tanganmu, rasa dadamu - tubuhmu panas ngeri. Begitulah Piet, selama 12 bulan secara amat lamban tubuhmu terbakar, selama 12 bulan engkau menantikan pelepasan, selama 12 bulan engaku berada di dalam api penyucian. Kanker itu sungguh jahat: Mulai di usus dan selama setahun penuh merambat hingga seluruh tubuhmu jadi sebuah oven.
Saya tak heran kalau pada hari-hari terakhir di Wisma Simeon itu, engkau sulit menghadapi yang tak kunjung datang, merasa berat menghadapi yang tanda-tanya.

Ya, itulah moto tabhisanmu, Piet: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda-tanya.” Dari mana, engkau petik logo tahbisan itu? Ternyata engkau mengambilnya dari tulisan seorang pejuang, seorang aktivis muda, dari Soe Hok Gie, dari buku kegemaranmu, Catatan seorang Demostran. Soe Hok Gie: seorang aktivis dan penyair.Ketika ia baru berumur 27 tahun ia mati keracunan gas bumi di puncak Gunung Semeru. Ketika itu engkau seorang novis di sini, di Ledalero.

Tapi minat membaca itu, sudah timbul ketika engkau masih duduk di bangku SMA di Seminari Mataloko, minat yang diransang oleh Rektor Alex Beding, dan seorang guru awam sastra bahasa Indonesia. Bukan sastra mana saja yang kau gemari, tetapi hanya sastra yang mendukung perubahan sosial, sastra orang aktivis, sastra yang membahasakan daya juang, sastra anak muda seperti Soe Hok Gie, tulisan orang tua seperti Pramoedya Ananta Toer. Dan minta itu bertahan, dan kau lanjutkan di Ledalero dng gemar membaca majalah Horison dan Basis. Malah minat membaca bertahan selama 48 tahun dalam kaul misioner, selama 40 tahun dalam imamat pastoral.
Piet, engkau tetap berjuang, tetap mendukung perubahan sosial, engkau konsisten, tanpa kompromi. Jadi, tampaknya, semboyan tahbisanmu, bukan semboyan belaka, tapi motif hidupmu: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda-tanya.” Itulah engkau, Piet Nong Lewar. Itulah kesakisan hidupmu selama hampir setengah abad dalam kaul misioner.

Masa TOP engkau jalankan di Merauke. Sepulang dari Papua – Irian waktu itu – engkau bawa sebuah tifa yang kau taruh di atas lemari buku di kamarmu di Ledalero, dan seuntai bulu burung kasuari yang kau gantung di dinding. Orang yang punya tifa, kau tulis di majalah Vox, seolah-olah berkata: ajarlah kami memalu gendering tifa kami sendiri dalam lagu gembira agar kami tiada larut dalam kecemasan – agar kami tiada larut dalam kecemasan. Dan makna untaian bulu burung kasuari? Kau tulis - seolah memohon: terimalah tangan kami dan bimbinglah kami dalam perarakan tarian kami sendiri agar kami tidak letih di tengah jalan, agar kami tidak letih di tengah jalan.
Rasanya, Piet, dalam segala perjuanganmu di tengah umat sederhana, di tengah umat Flores Timur selama 40 tahun, engkau, Piet, tidak larut dalam kecemasan, dan tidak pernah merasa letih di tengah jalan – kecuali mungkin sesekali pada minggu-minggu terakhir, dalam tahun api penyucianmu di wisma Simeon.

Dan judul yang kau coret di atas tulisan di majalah Vox itu? “Miliku kini, cuma sebuah harapan.” “Miliku kini, cuma sebuah harapan.” Hebat kau, frater Piet Nong – dulu! Benar, tanpa mimpi masyarakat mati. Dan mimpi engkau adalah “cuma sebuah harapan”.
Ada satu lagi coretan yang saya kemukan, Piet, yang kau tulis pada waktu engkau berkalu kekal, 1976, kali ini di buletin Wisma Keluarga Ledalero. Tulisan ini rasanya agak kurang ajar, tapi toh editornya, Alex Tabe, memuatya. Judulnya: “Logika Sinting, Spiritualitet Semrawut.” Kau tulis, Tuhan malas: “karena untuk cita-citanya menyelamatkan dan mendamaikan dunia ini tiada kepalang tanggung ia memeras tenaga manusia. Lagi, Tuhan sombong: untuk menggolkan ambisinya ia tuntut manusia berendah diri. Lagi, Tuhan miskin: miskin segala bakat - segala bakat manusia hendak ia berkas jadi satu, biar ada kaki dan tangan dan kepala. Tuhan memeras tenaga manusia; Tuhan tuntut manusia berendah diri; Biar ada kaki dan tangan dan kepala.

Itulah engkau, Piet, selama berjuang bersama umat Flores Timur. Demi melawan korupsi, demi menghapus hukuman mati, demi menolak tambang. Demi upaya Youth interfaith Forum on Sexuality (YIFOS),demi mendampingi koperasi kredit, dan secara istimewa Yayasan Ayu Tani. Kau, Piet, bersama umat diperas tenagamu, terpaksa berendah diri, lantas menjadi kaki dan tangan dan kepala Tuhan di kawasan Flores Timur.

Piet, lihatlah, ratusan rekan pejuangmu hadir bersamamu pagi hari ini. Engkau dan mereka sama-sama menggali kepingan-kepingan budaya masyarakat, menggali kearifan umat, karena dalam menghadapi yang tanda-tanya, Piet, kau senantiasa mendorong perubahan sosial, dengan berpihak pada para petani, para korban.

Piet, saya tahu bahwa kau cukup pintar. Kau baca banyak dan menulis sedikit-sedikit. Kau pernah belajar bahasa Inggris di Irlandia, dan bahasa Jerman di Jerman. Kau ikut kursus Tersiat di Nemi juga kursus Pastoran Kitab Suci Dei Verbum bersama uskupmu, Darius Nggawa. Sebelumnya engkau pernah di Girisonta, pun pernah belajar komunikasi. Kau pernah mengikuti penyegaran beberapa kali. Dan selalu engkau kembali ke basis, ke tengah umat biasa-biasa di Flores Timur. Di situlah kau sungguh menikmati panggilanmu, dan bahagia.
Piet, saya melihat engkau sebagai seorang Pastor kampung yang tahu pakai otak. Seorang anak tani yang jadi pastor kaum tani. Seorang pastor yang berpikir, pastor kampung yang menganalisis, yang merencanakan. Di dusun engkau menemukan kebahagiaan dalam panggilanmu.

Sebetulnya, Flotim bukan pilihanmu pertama sebagai medan juangmu, Ketika melamar untuk kaul kekal, kau pilih Papua Neugini. Engkau adalah frater SVD paling pertama dari Seminari Tinggi Ledalero yang melamar bekerja di luar negeri. Zaman sekarang ini tidak ada frater yang mau memilih tinggal di Indonesia, tetapi pada tahun 1976 itu, 40 tahun yang silam, belum pernah ada alumni Ledalero yang memilih misi di luar negeri.

Tapi tidak jadi. Sebetulnya, Markus Moa, Regional SVD Ende waktu itu, mendukung pilihanmu, asal ada teman lain. Tapi, dari teman-teman kelasmu, tak ada satupun yang mau. Hasilnya PNG jadi Flotim. Dan di Flotim engkau tanam hatimu sepenuhnya selama empat dasawarsa. Itu sudah: “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda-tanya.”

Engkau tekun dan konsisten sambil menjalankan tugas di paroki yang satu pun di paroki berikutnya. Engkau tegas ketika menangani kasus-kasus pelanggaran hak petani, hak asasi manusia. Dan setiap tantangan, setiap tanda-tanya yang kau hadapi, kau pandang, kau nilai, dari pihak para korban. Selalu. Rupanya, sikap itu adalah hasil dari olah diri, dari olah bacaan, dari olah cita-cita hidupmu secara terus-menerus.

Tapi, Piet, saya mau tanya satu lagi: sebetulnya, apakah lebih cocok kalau dulu kau masuk sebuah LSM saja, dari pada masuk Tarekat Sabda Allah? Bagaimana kau mau jawab pertanyaan ini? Ya, dengan sikap keras itu, engkau menghayati cita-cita SVD. Benar juga!
Piet, kau sudah pergi. Nanti kita akan sama-sama menghadap Sang Hakim Agung. Dan pertanyaan Sang Hakim Agung kita sudah dengar tadi dalam bacaan Injil: “Aku lapar – dan kau buat apa?” “Aku haus – dan kau di mana?” “Aku seorang asing – dan kau merangkul saya atau tidak?” “Aku telanjang – jangan sampai kau cuma tutup mata.” “Aku sakit - jangan sampai kau bilang ‘salah sendiri’.” “Aku seorang napi – dan engkau anggap diri serba saleh?” Yesus itu kurang ajar sekali: Tak ada pertanyaan tentang doa atau devosi atau agama. Aku lapar, aku haus. Ya, Tuhan yang lapar, Tuhan yang haus.

Bagi engkau, Piet, pilihanmu amat jelas. Memperjuangkan perubahan sosial bersama kaum tani agar orang yang paling sederhanapun dihargai, diakui, diterima, dan dapat hidup bahagia dalam kebebasan anak-anak Allah. Dan itu yang memberi fokus pada pembaptisanmu, Piet, pada kaul misionermu, pada seluruh hidupmu selama 40 tahun sebagai seorang misionaris. Hidupmu terfokus, terarah, konsisten, tanpa kompromi hingga detik-detik terakhir. Piet, mengikuti riwayatmu, saya pikir kau selama ini membutuhkan dua sarana agar bisa berani menghadap yang tanda-tanya selama 40 tahun.

Pertama, kau harus berkepala batu. Tanpa keras kepala, mana bisa kau dapat berjalan lurus pada dunia yang bengkok. Itulah syarat pertama: sikap keras, konsisten, lurus hingga akhir hayat. Kata idolamu, Soe Hok Gie: “Sang Elang terbang sendirian.” Kedua, kau harus punya hati, punya satu-satunya subyek cinta, cinta tanpa pamrih, yakni Yesus, Si Tukang kayu, Si Pemimpi dari Nazaret.
Apa saja tantangan yang kau hadapi di medan juang selama 40 tahun, Piet, entah dari segelintir umat yang merasa kedudukan & kepentingan mereka terancam oleh kehadiranmu, entah dari segondok rekan pastor yang puas dan ikut arus saja, dan mereka yang cuma mencari kepuasan sesaat. Juga engkau ditantang oleh pimpinanmu yang membuat engkau mempertanyakan arah dan motivasi hidupmu. Tak apa-apa, Piet. Tandas rasul Paulus:
“Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penganiayaan? Kelaparan? Ketelanjangan? Bahaya? atau Pedang? Aku yakin, bahwa baik maut maupun hidup, baik malaikat-malaikat maupun pemerintnah-pemerintah, [termasuk pemerintah Flotim, mungkin??] baik yang ada sekarang maupun yang akan datang, Atau kuasa-kuasa, baik yang di atas maupun yang di bawah, Atau sesuatu makhluk lain mana pun, Tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah Yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita”.
Dua sarana kunci, Piet: Kepala batu agar lurus, dan kasih Kristus agar tulus. Dengan dua sarana ini selama 40 tahun engkau berani menghadapi yang tanda-tanya.

Baik Piet. Kita sampai di sini dulu. Saya mau menyampaikan “selamat jalan”, tapi kau sudah jalan! Dan kebetulan (??) hari ini, hari pemakamanmu, adalah hari kematian Yosef Nissen, Sang Rasul Tana Ai’. Yosef meninggal 41 tahun lalu. Boleh jadi, Yosef Nissen yang membaptis engkau dulu. Saya kira kamu berdua sudah ketemu dan tukar pengalaman.

Dan saya yakin pula bahwa engkau sudah bertemu dengan Frans Amanue. Anda sama-sama pastor di Keuskupan Larantuka, kedua anda sungguh berkepala batu - agar tetap konsisten - dan jelas anda berdua tak dapat dipisahkan dari kasih Kristus: hati anda sungguh ikhlas.
Kami yang lain masih berziarah, walau agak berliku-liku jalannya. Maka saya mau tinggalkan satu pesan: Coba jaga tempat untuk kami – bagi sama saudaramu, keluargamu, bagi umat yang kau layani selama ini, secara istimewa bagi saudarimu yang menjaga engkau dengan tekun selama tahun terakhir ini, yang tetap setia di sampingmu untuk melayanimu di Wisma Simeon, hari demi hari, bulan demi bulan, sepanjang tahun penderitaanmu.

Piet, kami berharap engkau siap menerima kami nanti - dan kalau boleh, siap juga sebotol moke keras sebagaimana kau selalu siap menerima dan welcome kami jika kami singgah di pastoran selama ini.

Kepala batu – konsisten - dan kasih Kristus – tulus ikhlas. Dan kasih Kristus itulah yang mendorong kita. Sesungguhnya, “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda-tanya.”
Teman Piet, sekian dulu. Sampai jumpa kelak.

 

KOTBAH MISA PEMAKAMAN P. YAN BELE SVD

Why 7: 2-3.9-17 Mat 5: 1-12 Dengan perayaan Ekaristi ini kita menghantar P. Yan Bele Jawa SVD kembali ke tangan Tuhan Sang Pencipta.

November 02, 2015

Dalam Tahun Hidup Bakti 2015 ini P. Yan merayakan 40 tahun imamat dan 50 tahun menjadi anggota Serikat Sabda Allah. Dan Tuhan memahkotai hidup bakti dan perutusan abdi-Nya ini dengan memanggilnya pulang ke hadirat-Nya pada Hari Minggu, 1 November, Pesta Semua Orang Kudus.
Karena itulah kedua bacaan suci hari ini diambil dari Pesta Semua Orang Kudus.
 1. Dalam Injil kita dengar Sabda Bahagia yang diucapkan Yesus dalam Kotbah di Bukit.
Kabar Gembira yang dahsyat dan indah ini diucapkan Yesus dalam musim semi tahun pertama karya-Nya di depan umum.
Firman ini sudah biasa kita dengar, sehingga kita tidak lagi dikejutkan oleh kekuatan dahsyat yang dikandungnya. Sabda ini bukanlahuncapan informatif yang saleh dan indah, melainkan sabda performatif, yaitu sabda penuh daya yang melaksanakan apa yang diucapkannya.
 
Saya baru memahami dengan baik hal ini, ketika menonton sebuah drama musikal di teater West-End London dulu. Drama musikal itu berjudul Jesus Christ Superstar, Yesus Kristus Mahabintang.
 
Dalam sebuah adegan drama itu, panggung tiba-tiba berubah menjadi dua tingkat. Pada tingkat atas berdirilah orang-orang Farisi, para rohaniwan Yahudi, yang berusaha menaati taurat Musa sampai detil yang terkecil, dan karena itu menganggap dirinya saleh dan benar.
 
Di tingkat bawah duduk sehimpunan besar orang dari segala macam golongan, ada nelayan-nelayan Galilea, para petani dan gembala dari padang-padang Palestina, orang-orang sakit dan para pendosa yang merindukan keselamatan, para pemungut cukai,  wanita-wanita pinggir jalan yang menjual diri untuk beberapa keping perak, kaum Zelot aktivis bawah tanah yang memperjuangkan pembebasan Israel dan banyak orang lain. Di tengah mereka duduklah Yehosua bar Yoseph, yang dikenal dengan nama Yesus. Mata semua orang memandang kepada-Nya.
Dia membuka mulut-Nya dan berkata:
 
“Berbahagialah yang miskin dihadapan Allah,
karena kamulah yang empunya Kerajaan Surga,
Berbahagialah yang berdukacita, karena kamu akan dihibur.
Berbahagialah yang lapar dan haus akan kebenaran, karena kamu akan dipuaskan,
Berbahagialah yang dianiaya karena kebenaran, yang difitnah dan dicela,
yang tergencet dan tergusur, karena kamulah yang memiliki Kerajaan Surga”.
 
Mendengar pewartaan itu semua orang geger. Untuk mereka yang di tingkat atas, ucapan petualang dari Nazaret itu merupakan sebuah penghujatan terhadap Yahwe yang kudus dari Israel. Menurut pandangan mereka, yang berbahagia ialah orang-orang saleh yang dianugerahi kekayaaan dan kesejahteraan lahir batin,  bukan para gembel, pendosa, dan penderita sakit yang berkerumun keliling orang Nazaret ini.
 
Sebaliknya untuk mereka yang di tingkat bawah sepercik api sudah dinyalakan, sebuah revolusi rohani yang dibawa Almasih.
 
Orang-orang miskin, yang sakit dan menderita itu disebut bahagia, bukan karena mereka itu baik dan saleh. Bukan. Mereka disebut bahagia karena Allah menaruh belaskasih atas mereka, karena Ia menyayangi mereka yang kecil dan lemah, yang berdosa, yang sakit dan menderita serta merindukan keselamatan maka Ia mengunjungi mereka dalam Yesus Almasih. Kalau saya boleh merangkum Sabda Bahagia Yesus dalam satu kalimat, maka dalam warta agung itu Yesus sebetulnya bersabda:
 
“Dengan ini dalam nama BapaKu, Aku menyatakan kamu semua berbahagia”.
 
2. Untuk memahami revolusi rohani ini secara penuh, mari kita simak Bacaan Pertama dari Kitab Wahyu. Bacaan ini melukiskan kepenuhan sukacita para kudus pada akhir zaman:
“Aku melihat: Sesungguhnya suatu kumpulan besar orang banyak dari segala bangsa, suku, kaum dan bahasa berdiri di hadapan tahta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palma di tangan mereka”.
 
Jubah putih melambangkan kesucian, daun-daun palma melambangkan kemenangan.
Tapi ada satu suara bertanya:
“Siapakah mereka yang memakai jubah putih dan dari manakah mereka datang?”
 
Terdengar jawaban:
“Mereka adalah orang-orang keluar dari kesulitan besar dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih dalam darah Anak Domba”.
 
Dengan ini menjadi nyata bahwa inti kekudusan dan keselamatan bukanlah jasa-jasa dan keutamaan kita, melainkan karena Yesus Anak Domba Allah itu membasuh kita jadi suci dalam darah penebusan-Nya. Kalau firman Kotbah di Bukit tadi diringkaskan dalam warta Yesus Almasih:
 “Dengan ini dalam nama Bapa-Ku Aku menyatakan kamu semua berbahagia”,
kini kita tahu bahwa Yesus menyebut kita bahagia dan menyelamatkan kita dengan mengorbankan diri di altar salib untuk kita.
 
Selanjutnya Kitab Wahyu melukiskan keadaan orang-orang diselamatkan itu sebagai berikut:
“Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi.
Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah tahta itu akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka”.
 
Saudara-saudari,
Apa yang diwartakan Yesus dalam Kotbah Di Bukit terwujud dalam kepenuhan Kerajaan Allah seperti dilukiskan Kitab Wahyu.
 
3. Pater Yan meninggal pada Hari Minggu 1 Nov 2015. Saya bayangkan pada hari itu semua orang kudus dari segala bangsa duduk keliling tahta Anak Domba. Dan Pater Yan yang baru dijemput para malaikat duduk di barisan depan dan semua mereka mendengar lagi Sabda Bahagia.
 
Lalu dalam cahaya keabadian  Pater Yan ingat kembali suatu hari di masa remajanya ketika hatinya tergetar oleh firman Yesus dan karena itu 50 tahun lalu dia memutuskan untuk bergabung dengan Serikat Sabda Allah untuk mengikut Yesus secara lebih dekat.
 
Pater Yan setia mengikuti Yesus selama 48 tahun menghayati kaul kebiaraan dan 40 tahun imam.
 
Selama tahun-tahun itu Tuhan mempercayakan dia banyak tugas penting sebagai pendidik dan rektor Seminari San Dominggo Hokeng, sebagai Provinsial SVD Ende, sebagai Rektor Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, dan terakhir sebagai rektor komunitas St. Mikkael, Syuradikara, yang baru berakhir tahun 2014. Seluruh hidup misionernya dibaktikan sebagai pendidik dan pemimpin.
 
Tapi fokus perhatian kita dalam Ekaristi ini bukanlah menghitung jasa-jasa almarhum, melainkan belaskasih Yesus Tuhan yang berkenan memanggil hamba-Nya ini menjadi anggota Serikat Sabda Allah dan  yang menyanggupkan dia dalam Roh Kudus untuk menunaikan semua tugas berat itu dengan tabah dan setia.
“Segala hormat, pujian dan syukur bagi Tuhan”.
 
4. Saudara-saudari terkasih,
Hari Minggu pagi langsung sesudah mendapat berita duka dari RKZ Surabaya, keputusan pertama yang harus diambil oleh Provinsial dan Dewan ialah menentukan tempat dan tanggal pemakaman. Sesudah berunding dengan pihak keluarga kami putuskan:
Jenasah diterbangkan dari Surabaya ke Maumere dengan pesawat NAM air karena tidak perlu transit ganti pesawat. Dari Maumere dihantar dengan ambulans, singgah sebentar di Seminari Tinggi Ledalero, lalu selanjutnya dihantar ke Ende dan disemayamkan di Kapel St. Mikhael, Syuradikara. Rencananya misa pemakaman di Aula Biara St. Konradus, karena ruangannya lebih luas dan dari situ dihantar ke tempat pemakaman.
 
Tapi kemarin, ketika kami sedang bersiap-siap menjemput jenazah P. Yan di Ledalero, saya lihat 4 miscall dari P. Yustin Genohon, Rektor Komunitas St. Mikhael. Saya telpon balik dan beliau menyampaikan bahwa keluarga besar Syuradikara, para konfrater SVD, para guru, pegawai, dan siswa-siswi meminta agar misa pemakaman dilangsungkan di Kapel St. Mikhael.
Melalui pembicaraan itu saya bisa merasakan cinta komunitas besar ini untuk Pater Yan almarhum. Maka saya langsung menyetujuinya, padahal saat itu di biara St. Konradus mereka juga sudah mempersiapkan aula.
 
Saya merasa tepat sekali beliau di lepas pergi dari sebuah lembaga pendidikan dan komunitas yang bernama SYURADIKARA: Syur-adi-kara berarti pencipta pahlawan utama. Dan di sini terbaring seorang pahlawan, abdi Tuhan yang tabah dan setia.
Untuk almarhum saya nukilkan kata-kata sebuah Elegi yang ditulis untuk para pahlawan:
 
“Ia yang hendak mencipta
Menciptalah atas bumi ini
Ia yang ‘kan tewas
Tewaslah demi kehidupan.
Kita yang mau mencipta dan akan tewas
Akan berlaku untuk ini dengan cinta
Dan akan gugur seperti permata mahkota
Berderai sebutir demi sebutir”.
 
Selamat Jalan P. Yan, saudaraku terkasih,
Beristirahatlah engkau dalam damai,
dalam Kasih Tuhan yang abadi. Amin
 

KOTBAH 50 TAHUN PERUTUSAN MISIONARIS POLANDIA KE INDONESIA

Kel. 3:1-14 Mat. 28: 16-20

October 16, 2015

“Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik
Kekal abadi kasih setia-Nya” (Mzm. 118:1).
 
“Inilah hari yang dibuat Tuhan,
Marilah kita bersorak-sorai dan
bersukacita karenanya” (Mzm. 118:24)
 
Dua kutipan dari Mazmur 118 menjadi nada dasar syukur kita hari ini. Ketika kami mempersiapkan pesta ini beberapa bulan lalu, berulang kali P. Tadeusz Gruca mengatakan bahwa yang kita rayakan hari ini bukanlah jasa-jasa mereka, melainkan syukur atas mukjizat kasih yang dibuat Tuhan untuk para misionaris dan melalui mereka bagi umat yang mereka layani selama 50 tahun.  “Bukan kami, ya Tuhan, bukan kami, melainkan nama-Mulah yang dimuliakan” (Mzm. 115:1)
 
Liturgi syukur hari ini dirajut dari tiga kisah, yaitu kisah Musa, kisah Yesus, dan kisah misionaris yang kita kenangkan hari ini. 
 
1. Bacaan Pertama dari kitab Keluaran berkisah tentang panggilan Musa untuk membebaskan umat Israel dari perbudakan Mesir.
Ketika Musa sedang menggembalakan kambing domba di gurun Midian dan dia melihat belukar duri yang bernyala tetapi tidak terbakar.
 
Sebetulnya setiap belukar, setiap pohon, setiap makhluk dicahayai oleh nyala yang tidak membakar tetapi menghidupkan, karena nyala itu adalah pijar kehadiran yang kudus, kehadiran Allah yang hidup dan menghidupkan.
 
Dari tengah nyala api itu Musa mendengar suara yang memanggil namanya. Kita pun teringat teks yang masyhur dari Yesaya (43:1.4):
“Aku memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku… Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia dan Aku ini mengasihi engkau” firman Tuhan.
Di depan kehadiran yang kudus itu Musa menanggalkan kasut kaki dan mengatup muka. Tetapi dia dengar wahyu Tuhan lebih lanjut:
“Akulah Allah Abraham, Allah Ishaak dan Allah Yakub”. Tuhan mengingatkan Musa kembali akan riwayat leluhurnya Abraham, Ishaak dan Jakub dengan siapa Tuhan telah mengikat perjanjian kasih-Nya, dan selanjutnya Tuhan akan terus merajut kisah penyelamatan-Nya dengan riwayat orang-orang yang dipanggil-Nya.
 
Dan Tuhan berfirman:
“Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di Mesir dan Aku telah mendengar jeritan mereka…
Oleh karena itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka dari tangan orang Mesir dan menuntun mereka ke suatu negeri yang indah dan luas, negeri yang mengalirkan susu dan madu…
Dan Aku mengutus engkau (Musa) kepada Firaun untuk membawa umat-Ku Israel keluar dari Mesir”.
 
Musa terkejut dan gementar sebab dia dulu melarikan diri dari Mesir karena ia takut dibunuh oleh Firaun. Dia melarikan diri ke tanah rantau Midian, menikah dengan Zipora, merasa aman dan bahagia, dan perlahan-lahan melupakan umat Israel sangat menderita penganiayaan di Mesir. Sekarang Tuhan justru menangkap dia dan mengutusnya kembali kepada Firaun, ke mulut harimau yang mengancam dia dulu.
Karena itu dengan segala cara Musa berusaha menolak panggilan Allah, tetapi Tuhan memberi jaminan: “Aku Tuhan menyertai engkau”.
 
Dan dalam pertemuan itu Tuhan mewahyukan nama-Nya:
“Aku adalah Aku”. Ini sebuah wahyu sentral dalam Perjanjian Lama. “Eyeh asyer eyeh”, dalam bahasa Ibrani yang berarti “Akulah Allah yang yang sama, yang setia yang menyertai kamu”. Setia kasih Tuhan dalam wahyu itu mempunyai tiga dimensi:
- Memoria, kenangan akan masa lalu:
“Akulah Allah Abraham, Ishaak dan Yakub”, yang mengasihi mereka dulu.
- Compassio Dei, pernyataan belaskasih kepada umat-Nya saat ini:
“Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku di Mesir.  Aku telah mendengar jeritan mereka…Karena itu Aku telah turun untuk membebaskan mereka dari perbudakan Mesir”.
-  Missio, perutusan ke masa depan:
“Aku mengutus engkau untuk menuntun umat-Ku keluar dari Mesir dan menghantar mereka ke negeri yang luas dan indah, negeri yang mengalirkan susu dan madu”.
 
Dan apakah yang dibuat Musa dalam tugas perutusannya? Izinkanlah saya merangkum pelaksanaan tugas itu secara singkat dengan menyebut 4 hal penting:
(1). Exodus: Musa memimpin umat Israel keluar dari tanah perbudakan ke tanah kemerdekaan. Peristiwa exodus itu sangat penting dalam sejarah dunia, karena dia menginspirasi semua gerakan kemerdekaan, justru karena Allah yang kita imani adalah Allah yang membebaskan.
(2). Perjanjian Sinai: Musa menjadikan Israel satu umat yang terbakti kepada Allah melalui perjanjian Sinai yang ditandai 10 perintah, atau lebih tepat 10 firman. Dan kesepuluh firman itu menjadi inspirasi semua gerakan Hak Asasi Manusia, karena Allah membela hak semua orang, khususnya orang-orang kecil yang miskin dan tertindas.
(3). Musa selalu berdoa untuk umat yang dipimpinnya, karena Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk yang sering memberontak terhadap firman Tuhan.
(4) Musa menyiapkan penggantinya Yosua untuk menghantar Israel masuk ke tanah terjanji.
2. Saudara-saudari terkasih,
Kalau Kitab Keluaran berkisah tentang karya agung Tuhan melalui Musa, Injil bercerita tentang karya Allah yang lebih agung lagi melalui Yesus Juruselamat kita. Mari kita lihat perbadingan singkat antara Yesus Almasih dan Musa.
 
(1). Kalau Musa membebaskan Israel dari perbudakan Mesir, Yesus membebaskan kita dari perbudakan dosa dan menghantar kita ke tanah air abadi, tanahair surgawi.
(2). Kalau Musa membentuk Israel sebagai umat Tuhan melalui perjanjian Sinai, Yesus menjadikan kita anak-anak Allah, yang dilahirkan dari air dan Roh Kudus, yang ditandai satu hukum saja yaitu hukum cintakasih.
(3). Kalau Musa berdoa untuk umat Israel, Yesus Imam Agung yang bertakhta di sisi Bapa selalu mengantarai permohonan kita pada Bapa maha penyayang. Karena itulah doa liturgis selalu diakhiri dengan rumusan “Dengan perantaraan Kristus Tuhan kami”.
(4). Kalau Musa menyiapkan Yosua untuk menjadi penggantinya, Yesus mengutus para rasul, imam, misionaris-misionaris sepanjang zaman untuk meneruskan karya perutusan-Nya. Dan Dia berjanji: “Aku senantiasa menyertai kamu sampai akhir zaman”. Dia hadir sekarang di tengah kita dalam perayaan Ekaristi ini.
Karena itulah hari ini kita pun boleh bermadah:
 
“Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik
Kekal abadi kasih setia-Nya” (Mzm 118:1).
 
3. Saudara-Saudari terkasih,
Ceritera ketiga ialah kisah misionaris, yang kita kenangkan hari ini.  Tahun 1964, lima puluh satu tahun yang lalu, ada seorang pastor dari Flores yang mengikuti kursus penyegaran di Nemi, Roma, yaitu P. Yosef Diaz Viera SVD. Pada suatu hari P. Superior General Yohanes Schuette berkata kepadanya: “Negara Indonesia mempunyai hubungan sangat baik dengan Polandia. Di sana sana ada banyak imam dan bruder muda. Pergilah ke Polandia dan coba dapat izin bagi misionaris SVD dari Polandia ke Indonesia”.
 
Waktu itu Polandia masih dalam kungkungan rezim komunis di bawah kuasa Rusia. Menurut perhitungan normal, usaha P. Yosef Diaz Viera tidak akan berhasil. Namun dengan dukungan doa banyak saudara, dia pergi ke sana.  Kebetulan waktu itu duta besar Republik Indonesia untuk Polandia seorang katolik, dan sekretarisnya juga seorang katolik.
 
P. Yosef Diaz tiba di Seminari Tinggi Pieniezno tepat di hari terakhir retret tahunan para konfrater, sehingga banyak imam muda hadir. P. Yosef Diaz minta izin kepada Provinsial Polandia P. Koziel untuk mendapat 20 misionaris muda sukarelawan untuk Indonesia. Hanya dalam beberapa menit daftar itu penuh: 20 sukarelawan!
P. Yosef Diaz bersama Duta Besar Indonesia pergi ke kementrian luar negeri Polandia untuk minta izin bagi 20 pastor. Pegawai tinggi kementrian terkejut luar biasa. Dia bilang: “Kami biasa kirim insinyur atau dokter, tetapi dari mana pemerintah Polandia mendapat 20 pastor untuk Indonesia?”
P. Diaz menjawab: “Tidak perlu cari. Saya sudah punya 20 sukarelawan yang terdaftar di sini”. Pegawai mengambil daftar itu dan berkata: “Hal ini harus diputuskan oleh instansi yang lebih tinggi”. Instansi yang lebih tinggi artinya pejabat tinggi Partai Komunis. Karena itu ada beberapa konfrater berpikir bahwa usaha ini tidak akan berhasil. Tapi mukjizat masih terjadi. Bulan April 1965 izinan keluar, tapi pemerintah sudah menyensor beberapa nama yang harus diganti. Bulan Juni semuanya beres.
 
Tanggal 17 Agustus 1965 Duta Besar Maengkom menjamu semua misionaris muda ini. Dan hari berikutnya beliau dan isterinya berdiri di stasiun kereta api Warsawa menghantar para misionaris perdana ini dengan karangan bunga mawar merah putih. Warna bendera Indonesia merah putih, warna bendera Polandia putih merah.
Tanggal 27 Agustus 1965 rombongan pertama misionaris perdana tiba di Jakarta disambut lambaian tangan P. Yosef Diaz bersama sejumlah umat katolik yang menjemput.
 
“Inilah hari yang dibuat Tuhan”, kata pemazmur, “Marilah kita bersorak-sorai dan bersukacita karenanya” (Mzm. 118:24).
 
Peristiwa itu satu tonggak penting dalam sejarah Gereja dan saya menyebutnya exodus baru perutusan misioner, karena sejak saat itu pemerintah komunis Eropa Timur mulai memberi izin kepada banyak tarekat untuk mengirim biarawan-biarawati sebagai misionaris ke seluruh dunia. Empat misionaris perdana itu sekarang hadir di sini mewakili saudara-saudara yang lain. Tujuh orang sudah meninggal, dua menarik diri, lima kembali ke Eropa karena sakit atau karena dibutuhkan di sana, dan enam masih ada di Indonesia. Empat dari saksi sejarah itu hadir di tengah kita: P. Stanis Pikor, P. Stefan Wrosz, P. Ceslaus Osiecki, dan P. Tadeus Gruca.
 
Para misionaris ini, bersama barisan panjang para misionaris, meneruskan wasiat perutusan yang diterima para rasul seperti yang kita dengan dalam Injil tadi:
“Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”.
Tugas pertama para misionaris ialah mewartakan Kabar Gembira. Atau seperti dirumuskan dalam Kongres Misi Asia Pertama di Chiang Mai, Thailand (2006):
“Misi itu bercerita.
Misi itu bercerita tentang sebuah Kisah.
Misi itu bercerita tentang Kisah Cinta Allah kepada manusia”.
Tetapi para misionaris bercerita bukan hanya dengan kata, melainkan dengan tindakan nyata dalam pengabdian untuk sesama.
 
Dengan cara itu mereka berhasil menghimpun murid-murid Yesus dari pelbagai bangsa dan budaya. Mereka menjadikan orang-orang yang beriman itu putra-putri Allah melalui pembaptisan.
Dan menurut teladan Yesus, para misionaris itu berdoa bagi umat beriman yang mereka layani dan juga menyiapkan para pengganti untuk melanjutkan karya perutusan misioner.
 
Karena itulah hari ini, 102 tahun sesudah misionaris Serikat Sabda Allah menjejakkan kaki pertama kali di kepulauan Nusantara, 50 tahun sesudah exodus baru misisonaris SVD dari Polandia, Gereja di Flores kini mekar menjadi sebuah taman yang indah untuk Tuhan, sebuah Gereja muda yang Injili, mandiri, solider dan misioner, dan yang pada gilirannya mengirim misionarisnya ke 50 negara di seluruh dunia. Mukjizat yang dulu terjadi, kini terjadi lagi.
 
“Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik
Kekal abadi kasih setia-Nya” (Mzm 118:1).

1 / 2

Please reload