Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

   Periode 1913-1918

   

  1. 1 Maret 1913, Penyerahan resmi wilayah NUSA TENGGARA ke tangan SVD terjadi di Lahurus, Timor  dari P. Adrianus Mathijsen, SJ kepada P. Petrus Noyen, SVD.

  2. 16 September 1913, Gugusan kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), oleh Takhta Suci ditetapkan menjadi sebuah wilayah Prefektur Apostolik, dengan P. Petrus Noyen, SVD sebagai Prefek Apostolik yang pertama. 

  3. 23 Desember 1913, Generalat SVD menetapkan wilayah misi SVD di Nusa Tenggara sebagai REGIO ENDE  dan Ndona, Ende, Flores sebagai pusat seluruh kegiatannya.

  4. 20 Juli 1914, Atas persetujuan Vikaris Apostolik di Batavia dan Superior  Ordo Jesuit, Vatikan memutuskan bahwa daerah misi di Flores dan sekitarnya diambil alih oleh SVD dari tangan para imam Yesuit. 

  5. 14 Mei 1917, Misi Jesuit di Flores berakhir secara resmi dengan berangkatnya P. C. Hoeberechts, SJ. Beliau pergi diganti oleh P. W. Baack, SVD sebagai superior wilayah misi Larantuka (Flores). Umat katolik ketika ditinggalkan oleh Jesuit, sekitar 40.000 orang. Tersebar di Ende-Lio, Sikka, Larantuka dan pulau-pulau sekitarnya (Adonara, Solor, Lomblem (Lembata), belum termasuk Flores Barat (Ngada dan Manggarai). 

  6. 1918, Perang dunia Pertama berakhir dan banyak misionaris SVD diutus ke Indonesia. Jumlah SVD sudah memadai, sehingga Generalat SVD memutuskan semua wilayah misi SVD di Indonesia masuk dalam REGIO ENDE.

   Periode 1920-1929

   

  1. 3 Mei 1920, P. Piet Noyen diangkat sebagai Regional yang pertama. Beliau menghadiri kapitel General SVD di Steyl, dan tidak bisa kembali lagi ke Indonesia sampai meninggalnya. 

  2. 20 Pebruari -12 April 1922, Visitasi General yang pertama di Indonesia dilakukan oleh Superior General P. Wilhelmus Gier, SVD

  3. 12 Maret 1922, Status Sunda Kecil diangkat dari Prefektur Apostolik menjadi Vikariat Apostolik. 

  4. 14 Maret 1922, P. Arnoldus Verstraelen, SVD diangkat sebagai Vikaris Apostolik yang pertama.

  5. 19 Maret 1922, P. B. Glanemann, SVD diangkat oleh Pater General Gier menjadi Regional yang baru menggantikan P. Verstraelen.

  6. 2 Juni 1922, Pengangkatan 6 rektor wilayah yang baru untuk Timor, Larantuka, Maumere, Ndona, Bajawa dan Manggarai. Wilayah Vikariat Apostolik dipimpin oleh Mgr. A. Verstaelen, SVD selama 10 tahun sampai beliau wafat karena kecelakaan kendaraan pada 16 Maret 1932 dan dimakamkan di dalam katedral Ende. 

  7. 15 September 1929, Seminari Menengah Mataloko (Todabelu) – sekolah pendidikan calon-calon imam pribumi yang pertama didirikan.

   Periode 1933-1941

  1. 13 Mei 1933, Takhta Suci kemudian mengangkat P. Hendrikus Leven, SVD, sebagai Vikaris Apostolik menggantikan Mgr. A. Verstralen, SVD.

  2. 4 Juli 1933, Angkatan pertama mulai dengan masa novisiat dengan P. Yakobus Koemeester, SVD sebagai Magister.

  3. 16 Oktober 1933, 7 frater novis angkatan pertama menerima jubah di Mataloko

  4. 17 Januari 1936, pengikraran kaul pertama oleh ke 7 frater.

  5. 20 Mei 1937, Secara resmi, rumah SVD di Ledalero direstui oleh Generalat SVD. Dengan itu Ledalero menjadi tempat untuk novisiat dan skolastikat SVD. Ini berkat usaha Regional Yohanes Bouma, SVD

  6. 3 Juni 1937, Novisiat SVD dipindahkan dari Mataloko ke Ledalero

  7. 10 Juli 1937, Semuanya sudah berada di Ledalero. P. Yakobus Koemeester yang magister, diangkat juga menjadi Rektor Ledalero yang pertama. Sesudah visitasi general oleh P. H. Burschen, SVD tahun 1939

  8. 4 Juli 1939, P. Antonius Thijssen, SVD diangkat menjadi Prefek untuk para frater SVD Ledalero.

  9. 15 Agustus 1940, Dua frater angkatan pertama mengucapkan kaul kekal, yakni Fr. Karolus Kale Bale, SVD dan Fr. Gabriel Manek, SVD.

  10. 28 Januari 1941, Fr. Karolus Kale Bale, SVD dan Fr. Gabriel Manek, SVD. ditahbiskan menjadi imam sulung pribumi SVD Indonesia, di gereja Nita, Maumere, di tengah suasana perang dunia II.