Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

MELINTAS BATAS SATU ABAD

March 7, 2016

Pada sore yang cerah, Selasa 12 Januari 2016, umat paroki Lela berkumpul di pantai bersama para Suster Misi Abdi Roh Kudus (SSpS), sejumlah konfrater SVD dan para undangan, menapak tilas sebuah peristiwa penting yang terjadi hampir seratus tahun yang lalu. Sambil berdoa, membacakan kisah sejarah misi, dan menyanyikan madah pujian, semua mata memandang ke arah laut dan menanti. Dari jauh muncul tiga perahu, masing-masing memuat dua suster dalam busana kebiaraan dengan kerudung lebar menurut model busana satu abad yang lalu. Umat pun berlari ke tepian ombak menyambut enam Suster Misi Abdi Roh Kudus yang menjejakkan kaki pertama kali di pantai Flores. Itulah napak tilas penjemputan enam misionaris perdana SSpS yang tiba di Lela pada hari Sabtu sore, 13 Januari 1917. Dengan acara ini dibuka Tahun Yubileum Satu Abad Perutusan Suster Misi Abdi Roh Kudus di Indonesia, yang akan berpuncak dalam perayaan syukur, 13 Januari 2017, di bawah tema: “Dalam Sukacita Roh Kudus: Bersyukur dan Melanjutkan Bakti”.
 
Ketika Mgr. Petrus Noyen SVD menulis surat kepada Superior General SSpS di Steyl dalam tahun 1916, beliau meminta agar Pimpinan SSpS mengirim suster-suster Misi Abdi Roh Kudus menggantikan Zusters van Liefde (Suster Cintakasih) yang akan meninggalkan dusun Lela dan pindah ke Sumatera. Dalam surat itu Mgr. Noyen menjabarkan tugas-tugas misioner yang diharapkan dari para suster SSpS.
Pertama, meneruskan pendidikan di sekolah untuk anak-anak perempuan yang sudah dirintis oleh Suster-Suster Cintakasih. Kedua, mengajar agama dan memberikan pembinaan bagi para ibu serta gadis-gadis untuk menjadi ibu keluarga kristiani yang baik. Ketiga, memberi pelayanan kesehatan, baik untuk para misionaris di lapangan maupun untuk umat yang sangat membutuhkannya. Dari surat itu jelas bahwa Mgr. Noyen SVD mengharapkan bahwa para suster tidak sekadar menjadi ‘pelengkap penyerta’ bagi misionaris SVD yang sudah datang empat tahun sebelumnya, melainkan agar mereka menjadi mitra sederajat dalam perutusan misioner yang satu, menurut karisma kita masing-masing. Mgr. Noyen meminta sekurangnya sepuluh Suster SSpS untuk menggantikan 13 Suster Cintakasih yang akan segera berangkat. Tetapi dalam situasi sulit Perang Dunia I waktu itu, Pimpinan SSpS hanya bisa mengirim enam orang. Dari mereka ini ada tiga suster berkaul kekal yang sudah punya pengalaman misi: Sr. Willibrorda Boumans, Sr. Pulcheria Rehman, dan Sr. Ludgarda Dingenouds. Tiga yang lain adalah suster-suster yunior yang baru setahun mengikrarkan kaul kebiaraan:  Sr. Herminiana Dinnissen, Sr. Ewaldine van den Biggelaar, dan Sr. Xaveriana van der Sluis.

Mereka memulai karya perutusan di dusun Lela yang kecil dan terpencil kala itu. Tapi ternyata  apa yang dimulai secara sederhana oleh keenam saudari ini, dengan berkat Tuhan telah melahirkan 5 provinsi SSpS di Indonesia dan satu regio di Timor Leste. Benih awal itu sekarang menghasilkan buah berlimpah dalam diri 740 Suster SSpS asal Indonesia, 160 orang dari mereka bertugas di luar negeri, yang bersama saudari-saudari lain berkarya di 44 negara di lima benua.
 
     Kita mencatat lima karya yang paling penting yang dilakukan Tuhan melalui para abdi-Nya selama hampir satu abad ini.
Pertama, karya di bidang pendidikan, khususnya pendidikan anak-anak perempuan, yang membebaskan mereka dari belenggu adat yang sangat mengungkung kaum perempuan pada zamannya seperti yang bisa dilihat dalam film documenter Ria Ragho. Di Lela ini Sr. Ludgarda memulaiStandardschool, dan dalam tahun 1918 sudah ada 300 siswi di sekolah ini. Banyak dari mereka yang kelak menjadi guru dan rasul awam di seluruh Flores.
 
Kedua, karya di bidang pastoral keluarga. Para suster melalui kursus-kursus seperti Sekolah Rumah Tangga, memberikan pelajaran agama dan pelatihan ketrampilan putri, yang menyiapkan gadis-gadis menjadi ibu keluarga kristiani yang baik. Banyak dari mereka menjadi nyora guru atau isteri pejabat.
 
Ketiga, karya di bidang kesehatan melalui Rumah Sakit, Poliklinik dan Balai Pengobatan. Umat Lela pasti akan tetap mengenangkan karya para suster selama 84 tahun di RS St. Elisabeth, yang kini diserahkan sepenuhnya kepada keuskupan Maumere.
 
Keempat, para suster SSpS juga sangat berjasa dalam proses kelahiran dan pengembangan dua tarekat suster pribumi. Pertama Tarekat Suster CIJ, yang didirikan Mgr. Henricus Leven SVD tahun 1935. Beberapa Suster SSpS sangat berjasa dalam mendidik dan mendampingi calon-calon suster tarekat baru ini. Satu nama patut dicatat secara khusus ialah  Sr. Xaver Hoff SSpS, yang menjadi magistra novis dan pemimpin suster-suster yunior CIJ selama 26 tahun. Beliau begitu mencintai tarekat muda ini sehingga beliau mengajukan permohonan ke Roma untuk menjadi anggota CIJ, tetapi Roma tidak memberi izin. Namun hal itu tidak mengurangi cinta dan pengabdiannya.
Tarekat kedua ialah Putri Reinha Rosari yang didirikan oleh Mgr. Gabriel Manek SVD tahun 1958. Co-fundatrix yang dikenang dengan penuh cinta oleh Suster-Suster PRR sebagai Ibu Peserta Pendiri mereka ialah Sr. Anfrida van der Werff SSpS. 
 
Kelima, sejalan dengan perkembangan zaman, dalam dua puluh tahun terakhir para Suster SSpS juga sangat aktif dalam perjuangan kemanusiaan, pembelaan hak-hak asasi, serta perlindungan bagi perempuan dan anak-anak yang menjadi korban pelecehan seksual dan tindak kekerasan. Tidak kebetulan bahwa dalam Kapitel Jenderal tahun 2014 yang lalu, ketika utusan dari tiap provinsi diminta membawakan satu kisah yang melukiskan perjuangan misioner di tempatnya masing-masing, utusan dari Provinsi Flores Bagian Timur membawakan kisah berjudul: “Didayai oleh Roh Kudus kami menghidupkan tulang belulang yang mati”. Itulah kisah pembelaan atas hak hidup kaum kecil dan tertindas.
 
Melalui karya-karya tersebut para suster misionaris telah menanggapi tantangan misioner pada zamannya. Dan untuk semua karya besar yang dilakukan Tuhan melalui para abdi-Nya ini kita bersyukur dalam sukacita Roh Kudus.
 
Tiga tahun yang lalu kita Misionaris Serikat Sabda Allah telah melewati tapal satu abad, sambil mengenang dengan penuh syukur jasa para pendahulu kita. Kini bersama saudari-saudari Suster Misi Abdi Roh Kudus kita bertekad meneruskan bakti, memasuki abad baru dengan tantangan dan perluang tersendiri. Satu pertanyaan tetap menantang kita dalam proses refleksi, evaluasi dan doa permohonan kita sebagai misionaris: “Tuhan, apa yang Kaukehendaki kami lakukan dalam tugas perutusan kami dewasa ini?” Semoga Roh Kudus yang telah memimpin para misionaris sepanjang sejarah akan menuntun kita melintas batas satu abad dan tetap menjadi sumber kekuatan, cahaya, harapan dan kegembiraan kita.  
 
Provinsial

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us