Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

WAJAH KERAHIMAN

June 28, 2016

 

I. Dalam Himbauan Apostolik Misericordiae Vultus (MV),Paus Fransiskus dengan indah sekali melukiskan Wajah Kerahiman Allah. Saya catat beberapa nukilan dari dokumen ini dan meringkas beberapa poin yang patut menjadi bahan renungan kita dalam Tahun Yubileum Kerahiman Ilahi. 


 
1. “Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa” (MV 1).

 

2. “Keselamatan kita tergantung pada kerahiman Allah.
Kerahiman: kata yang mewahyukan misteri Tritunggal Mahakudus sendiri.
Kerahiman: tindakan utama dan tertinggi yang olehnya Allah datang menjumpai kita.
Kerahiman: hukum dasar yang berdiam di dalam hati setiap orang yang memandang dengan tulus ke dalam mata saudara dan saudarinya di jalan kehidupan.
Kerahiman: jembatan yang menghubungkan Allah dan manusia, yang membuka hati kita kepada sebuah harapan untuk dikasihi selamanya meskipun kita berdosa” (MV 2).
 
3. Dalam Perjanjian Lama Tuhan mewahyukan diri kepada Musa sebagai:
“Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya” (Kel 34:6, MV 1).
 
4. Kerahiman Allah ini dinyanyikan dalam banyak mazmur (MV 6):
“Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm 103:3-4).
 
“Dia yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar. TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Mzm 146:7-9).
 
“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; TUHAN menegakkan kembali orang-orang yang tertindas, tetapi merendahkan orang-orang fasik sampai ke debu” (Mzm 147:3.6).
 
5. Apa yang diwahyukan dalam Perjanjian Lama dan yang dinyanyikan pemazmur, menjadi nyata bagi kita dalam diri Yesus, Sang Sabda yang menjelma.
“Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa”.
Dialah yang membuka mata orang buta, menegakkan si lumpuh, memberi makan orang-orang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, mengampuni pendosa; Ia rela mengurbankan nyawa agar kita boleh hidup. Dan melalui perumpamaan-perumpamaan-Nya Ia mewahyukan belaskasih Tuhan yang tiada berhingga, yang bisa kita baca misalnya dalam kisah Si Anak Hilang dan Bapa Yang Berbelaskasih (MV 8-9).
 
6.  Murid-murid Yesus juga dipanggil untuk menampilkan wajah kerahiman ilahi itu: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36, MV 13).
 
7. “Kerahiman merupakan dasar dari kehidupan Gereja...
Kredibilitas Gereja terlihat dalam bagaimana ia menunjukkan cinta yang penuh kerahiman dan belas kasih” (MV 10).
“Gereja  diutus untuk mewartakan kerahiman Allah, jantung Injil yang berdetak, yang dengan caranya sendiri harus menembus hati dan pikiran setiap orang” (MV 12).
 
II. Di manakah sekarang ini orang bisa melihat secara nyata sebagai Wajah Kerahiman Allah?  Siapakah yang akan menampilkan wajah kudus itu? Saya teringat sebuah doa tua yang berbunyi: “Yesus tidak lagi punya tangan yang terulur untuk membantu sesama, kecuali melalui tanganmu dan tanganku. Yesus tidak lagi punya kaki untuk berjalan keliling mengunjungi orang-orang di kota dan di dusun, selain melalui kakimu dan kakiku. Yesus tidak lagi punya mata yang memancarkan kerahiman dan belaskasih, selain melalui matamu dan mataku. Kitalah yang sekarang menjadi Injil-Nya, kabar gembira bagi sesama. Karena Injil yang hidup tidak ditulis dengan tinta pada lembar-lembar kertas, ia ditulis oleh Roh dalam hati setiap umat beriman”.
 
Doa ini dengan jelas menyatakan bahwa tanggung jawab besar untuk menampilkan wajah itu adalah tanggung jawab setiap umat beriman. Lebih-lebih kita yang secara khusus dipanggil menjadi sahabat Sang Sabda dan yang berikrar bahwa  “hidup-Nya adalah hidup kita, perutusan-Nya adalah perutusan kita” (Prolog Konst. SVD).  Maka ketika sama saudara kita pergi ke Merdei, Nasem, Waris atau pun tempat lain di Tanah Papua dan melayani umat dengan gembira sampai ke pelosok yang terpencil, mereka menampilkan wajah belaskasih Allah. Ketika seorang misionaris berjuang tanpa kenal lelah mengunjungi umat di pulau-pulau terpencil di wilayah Seram Timur, dia memancarkan cahaya dari wajah kudus itu. Dan masih ada banyak contoh pengabdian yang membanggakan. Tetapi kali ini saya hanya ingin menyebut tiga nama konfrater SVD yang merayakan pesta syukur emas imamatnya di Tahun Yubileum Kerahiman ini:  P. Paulus Boli Lamak, P. Kallixtus Suban Hadjon, dan P. Bernardus Kota.
    
P. Paulus Boli Lamak dilahirkan tahun 1935 di kampung Bakan, sebuah kampung yang sejuk dan indah di pedalaman Pulau Lembata. Orangtuanya petani sederhana, tapi sungguh menghayati iman kristiani yang mereka warisi dari para misionaris Serikat Sabda Allah. Paulus Boli adalah salah satu dari siswa-siswa pertama yang masuk Seminari San Dominggo Hokeng, ketika seminari menengah itu dibuka pada tahun 1950. Ia ditahbiskan imam pada tanggal 17 April 1966 bersama lima temannya sebagai buah sulung dari Seminari San Dominggo Hokeng. Sesudahnya P. Boli mendapat tugas pelayanan pastoral di paroki selama 22 tahun, mulai dari Tuka, Palasari dan Denpasar di pulau Bali, dan kemudian di Surabaya dan Jakarta. Dengan latar belakang pengalaman yang kaya di bidang pastoral ia kemudian ditugaskan oleh Pimpinan Serikat  menjadi pendidik dan pembina siswa seminari di Alma Maternya, San Dominggo Hokeng. Di tempat ini ia telah mengabdi dengan setia selama 28 tahun. Kini dalam usia 81 tahun ia masih kelihatan segar dan gembira. Tidak heran bahwa untuk pesta emasnya beliau memilih motto: “Tuhan Sumber Gembiraku”.
 
P. Kallixtus Suban Hadjon SVD berasal dari kampung Waibalun di kaki gunung Ile Mandiri, Flores Timur. Ayahnya seorang juragan perahu yang tangkas, yang biasa melayari perairan antarpulau di Flores Timur, tapi merangkap kerja sebagai petani ladang di lereng Ile Mandiri. Ibunya seorang perempuan saleh. anggota Santa Anna, yang juga dikenal sebagai wanita dermawan yang biasa membantu sesama yang lebih miskin dengan diam-diam. Kallixtus masuk seminari San Dominggo Hokeng sebagai siswa angkatan kedua tahun 1951, tetapi ditahbiskan imam pada tanggal yang sama dengan P. Paulus Boli dan empat rekan lainnya, 17 April 1966. Selain studi filsafat dan teologi di Ledalero, ia kemudian berkesempatan membuat studi lanjut Jurusan Sejarah pada IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta; beberapa tahun sesudahnya memperdalam studi telologi spiritual di Universitas Gregoriana, Roma, dan mengikuti kursus lanjutan di Chicago, Washington DC, dan di Granby (Kanada). Dalam tugas imamatnya, ia hanya sempat bekerja sebagai kapelan selama satu tahun di paroki Borong, lalu setahun menjadi pengajar di Seminari Kisol, dan selebihnya selama 32 tahun menjadi formator para novis SVD di Ledalero, di Novisiat Batu (Malang) dan Kuwu, diselingi tugas sebagai sekretaris Uskup Weetebula selama 7 tahun. Sekarang dalam usia 78 tahun masih tetap melakukan tugas di Novisiat Kuwu dengan tekun, gembira dan setia. Motto pesta emas imamatnya tetap yang sama seperti ketika ditahbiskan 50 tahun lalu: “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” (1Kor. 9:19).
 
P. Bernardus Kota berasal dari kampung Were, di wilayah yang sejuk dan subur di Flores tengah, tidak jauh dari Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Orangtuanya seperti kebanyakan warga kampung ini adalah petani dengan tradisi kerja keras, yang menjadikan kampung Were lumbung makanan untuk wilayah ini. Semangat keluarga petani inilah yang menempa P. Bernard menjadi seorang pekerja yang tekun dan tabah. Dan berkat inspirasi para misionaris Serikat Sabda Allah anak petani ini kemudian menjadi pekerja yang  ulet dan tekun di Ladang Tuhan. Bernard Kota masuk Seminari Mataloko tahun 1951 dan ditahbiskan imam bersama kawannya almarhum P. Paulus Tera SVD tanggal 20 April 1966. Motto tahbisan dipilihnya dalam bahasa Latin: “Fratri tuo servies”, yang berarti “Engkau akan melayani saudaramu”. Nas ini sejatinya berasal dari rumusan berkat yang diberikan Ishak kepada Esau, sesudah Yakub menipu ayahnya dan mendapat kelimpahan berkat terlebih dahulu. Maka teks Kitab Kejadian 27:40 dalam Alkitab Indonesia diterjemahkan sebagai berikut: “Engkau akan menjadi hamba adikmu”. Motto tahbisan ini nampaknya menjadi nubuat tentang pengabdian imamatnya selama tahun-tahun mendatang. Sesudah praktek pastoral singkat selama enam bulan di paroki Wairpelit, dia dibenum menjadi pengajar dan pembina di Seminari San Dominggo Hokeng. P. Bernard kemudian ditugaskan belajar pada IKIP Sanata Dharma sampai menjadi sarjana Bahasa Indonesia. Di Seminari Hokeng selain menjadi pengajar Bahasa Indonesia, ia juga pernah menjadi Kepala Sekolah dan Rektor. Tapi sejak tahun 1981 P. Bernard bertugas di SMAK Syuradikara, Ende. Jadi sudah 35 tahun dia berbakti di sini! Kalau kita gabungkan tahun-tahun pelayanan di Seminari Hokeng dan di Syuradikara, maka boleh dikatakan bahwa dengan kerja keras selama puluhan tahun dia telah menjadi “hamba adik-adiknya”, mendidik generasi masa depan untuk Gereja dan tanahair.
 
Atas caranya masing-masing ketiga imam sepuh ini telah setia melayani umat dan nampaknya mereka bertiga ditakdirkan menjadi pendidik generasi muda, baik calon-calon imam maupun para cendekiawan awam. Melalui pengabdian yang tekun dan tabah selama lima puluh tahun mereka telah menampilkan wajah kerahiman ilahi bagi sesama. Semoga teladan hidup mereka menjadi inspirasi untuk kita semua, karena: “Kredibilitas Gereja terlihat dalam bagaimana ia menunjukkan cinta yang penuh kerahiman dan belas kasih” (MV 10).
 
Provinsial

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload