Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

MENGENANG P. TARSISIUS DJUANG UDJAN, SVD

July 15, 2016

 

 

            Bagi banyak Umat dan anggota masyarakat di Ende, P. Tarsisius Djuang Udjan, SVD, atau biasa dipanggil dengan nama P. Tarsi, bukanlah sosok yang asing.. Ketika masih sebagai Frater ia menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Biara St. Yoseph, Ende, sebagai Bapa Asrama para Kandidat Bruder selama dua tahun, dari tahun 1973 sampai akhir tahun 1974. Setelah ditahbiskan menjadi imam, 23 tahun dari 38 tahun usia imamatnya dibaktikan di kota Ende dalam pelbagai tugas pelayanan.
 
P. Tarsi, anak dari Bapa Antonius Perakum dan Mama Theresia Tuto, dilahirkan di Udak, Lembata pada tgl. 21 September 1946 sebagai anak sulung dari tiga bersaudara, semuanya putera. Setelah menyelesaikan Sekolah Rakyat Katolik  di Lewuka dalam tahun 1960, ia masuk SMP Pankrasio di Larantuka, dan tamat pada tahun 1963. Selanjutnya ia masuk Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, di mana ia  menyelesaikan pendidkan SMA-nya dalam tahun 1968.
 
Karena bercita-cita menjadi imam biarawan dan misionaris, Tarsi pun melamar masuk SVD, dan pada tgl. 8 Desember 1968 ia diterima untuk memulai masa Novisiatnya selama dua tahun di Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero. Sejak masih di Seminari Menengah di Hokeng Tarsi selalu sakit-sakitan. Kondisi fisknya yang rapuh tidak mengalami perubahan selama ia berada di Novisiat. Karena itu, sebagaimana diceritakan sendiri oleh P. Tarsi,  Magisternya, P. Richard Nieuwendijk, sebenarnya sudah mencoret namanya, dan bermaksud mengeluarkannya dari Novisiat. Namun setelah mendengar kesaksian dari salah seorang Novis bahwa Fr. Tarsi mampu mengikuti pendidikan dan pembinaan di Seminari Tinggi, Pater Magister akhirnya mempertimbangkan kembali niatnya, dan membiarkan Fr. Tarsi meneruskan proses pendidikan dan pembinaan di Novisiat sampai ia diterima untuk  mengikrarkan kaul-kaulnya yang pertama dalam SVD pada tgl. 8 Januari 1971.
 
Sesudah masa novisiat ia menyelesaikan studi Filsafat pada akhir tahun 1972. Seharusnya setelah selesai studi Filsafat, pada permulaan tahun 1973 Fr. Tarsi menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Namun ketika teman-teman seangkatannya yang lain sudah berada di tempat TOP masing-masing, Fr. Tarsi masih berada di Ledalero karena belum ada tempat yang cocok baginya. Baru beberapa bulan kemudian Fr. Tarsi ditetapkan untuk menjalankan TOP di Biara St. Yoseph, Ende, dengan tugas sebagai Bapa Asrama para Kandidat Bruder.
 
Pada akhir tahun 1974 ia menyelesaikan masa TOP di Biara St. Yoseph, dan kembali ke Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero untuk melanjutkan pendidikan dan pembinaannya. Pada permulaan tahun 1975 ia memulai studi Theologi yang ia selesaikan pada akhir tahun 1977. Ia pun memasuki tahap akhir pendidikan dan pembinaannya, dan melamar untuk mengikrarkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah dan untuk ditahbiskan menjadi diakon dan imam. Pada tgl. 8 Januari 1978 ia mengikrarkan kaul-kaulnya untuk kekal, dan diberi penempatan untuk bekerja di Provinsi SVD Ende. Selanjutnya pada tgl. 7 April 1978 ia ditahbiskan menjadi diakon oleh Mgr. Donatus Djagom, SVD di Kapela Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret. Akhirnya pada tgl. 27 Juni 1978 bertempat di Udak, kampung halamannya sendiri, disakisikan oleh anggota keluarganya dan Umat ia ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD, Uskup Larantuka.
 
P. Tarsi pun memasuki babak baru hidupnya, dan mulai berkarya sebagai seorang imam, biarawan dan misionaris. Oleh Pimpinan Provnsi SVD Ende ia dipresentasikan kepada Bpk. Uskup Agung Ende untuk bekerja di wilayah Keuskupan Agung Ende. Selanjutnya, Mgr. Donatus Djagom, SVD,  Uskup Agung Ende, lewat surat tgl. 23 Oktober 1978 menunjuk P. Tarsi sebagai Pastor Pembantu Paroki St. Mikhael, Nita, Dekenat Maumere, dan  kemudian mengangkatnya sebagai sebagai Pastor Paroki St. Mikhael Nita,  
 
Selama bertugas di Paroki Nita, dalam kerja sama dengan Dewan Paroki dan Umat, P. Tarsi berhasil merenovasi bangunan gereja di Nita. Gedung gereja ini memang tempat bersejarah bagi SVD Indonesia, karena gereja ini menjadi tempat tahbisan dua imam SVD Indonesia angkatan pertama (P. Gabriel Manek dan P. Karolus Kale Bale) dalam tahun 1941, dan beberapa angkatan sesudahnya. Karena itu Panitia Pembangunan Rehabilitasi Gereja Paroki St. Mikhael Nita selain mengajukan permohonan untuk mendapat bantuan finansial dari Pimpinan SVD di Roma, juga mengambil inisiatip untuk menghubungi para Imam SVD yang ditahbiskan di Gereja Paroki Nita, dan meminta bantuan keuangan untuk pekerjaan renovasi bangunan gereja.
 
Selain sebagai Pastor Paroki Nita, P. Tarsi juga   terpilih sebagai Rektor Distrik Maumere untuk masa jabatan 1984 – 1987. Dalam tahun 1986  lewat Surat Keputusan tgl. 18 Agustus 1986, Bpk. Uskup Agung Ende menunjuknya sebagai Wakil Deken Maumere.
 
Masa tugas P. Tarsi di wilayah Maumere berakhir pada tahun 1987, ketika pada tgl. 25 September 1987 ia ditunjuk oleh Pater Provinsial SVD Ende sebagai Rektor Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans, Mataloko. Tidaklah mudah bagi P. Tarsi untuk meninggalkan Paroki Nita setelah  9 tahun melayani paroki ini. Dalam rentang waktu itu ia sudah mengenal dan dikenal  oleh umat, oleh anggota Dewan Paroki, dan kalangan masyarakat. Namun sebagai seorang misionaris yang harus selalu siap untuk beralih, P. Tarsi pun meninggalkan kemapanan di Paroki Nita, dan menuju ke tempat baru, dengan tugas yang samasekali baru, di  Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, satu  lembaga pendidikan calon imam yang sudah begitu terkenal,. Tugas barunya sebagai Rektor Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Mataloko memang penuh tantangan, namun ia dapat menyelesaikan tiga tahun masa jabatannya, 1987 – 1990.  Ia kembali terpilih sebagai Rektor untuk masa jabatan kedua, 1990 – 1993. Di samping itu ia juga terpilih sebagai anggota Dewan Provinsi SVD Ende periode 1990 – 1993.
 
Memimpin Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans Mataloko selama 6 tahun sungguh menguras pikiran dan tenaga P. Tarsi.  Situasinya lebih diperburuk  karena terjadi kesimpang-siuran isu dan komunikasi yang buruk dengan Bpk. Uskup Agung Ende, Mgr. Donatus Djagom, SVD. Meskipun ada rasa sakit hati, P. Tarsi mengakhiri masa pengabdiannya di lembaga pendidikan calon imam ini dengan tetap menaruh respek kepada Mgr. Donatus Djagom; hubungan pribadi antara keduanya tetap baik.
 
Selesai tugas  sebagai Rektor Seminari Menengah St. Yohanes Berkhmans, Mataloko, tugas yang baru, yang tidak kalah penting sudah menanti P. Tarsi. Oleh Pimpinan    SVD di Roma, ia ditunjuk sebagai Rektor Biara St. Konradus, yang merupakan Lembaga Pendidikan Bruder SVD yang paling besar dalam Serikat Sabda Allah. Di samping itu ia juga terpilih sebagai Wakil Provinsial SVD Ende periode 1993 – 1996. Dua tugas yang sama-sama berat ini diterima oleh P. Tarsi dengan rela. Pada akhir masa jabatannya yang pertama sebagai Rektor Biara St. Konradus, ia terpilih lagi sebagai Rektor untuk masa jabatan kedua, 1996 – 1999.
 
P. Tarsi seakan sudah ditakdirkan untuk menjadi Rektor.  Begitu menyelesaikan dua masa jabatan sebagai Rektor Biara St. Konradus, ia terpilih sebagai Rektor Biara St. Yoseph, Ende untuk periode 1999 – 2002. Ia pun kembali lagi ke tempat di mana dahulu ia menjalankan Tahun Orientasi Pastoralnya. Satu hal yang agaknya luar biasa yang terjadi selama masa kepemimpinannya di Biara St. Yoseph, ialah bahwa meskipun masih tetap menjabat sebagai Rektor Biara St. Yoseph, P. Tarsi ditunjuk sebagai Pastor Pembantu Paroki St. Yoseph Onekore   lewat Surat Keputusan Bpk. Uskup Agung Ende tgl. 19 Desember 2001. Hal ini dibuat karena ada kebutuhan akan tenaga imam untuk melayani Paroki St. Yoseph, Onekore.
 
Pengangkatannya sebagai Pastor Pembantu Paroki St. Yoseph Onekore menghidupkan kembali minatnya  terhadap karya pastoral parokial. Karena itu setelah 15 tahun terlibat dalam kepemimpinan Serikat P. Tarsi menyampaikan keinginannya kepada Pimpinan Provinsi SVD Ende untuk kembali bekerja di paroki. Mempertimbangkan kebutuhan tenaga imam untuk melayani Paroki St. Yoseph Onekore,   Pimpinan Provinsi SVD Ende  menyetujui keinginannya tersebut. Maka pada tgl. 19 Agustus 2002 Bpk. Uskup Agung Ende mengangkat P. Tarsi sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Onekore, di mana ia boleh bekerja selama 12 tahun. Karena sudah memasuki masa purnabakti, pada tgl. 17 Juni 2013 Bpk. Uskup Agung Ende membebaskan P. Tarsi dari tugasnya sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Onekore.  
 
Setelah bebas dari tugas di paroki, P. Tarsi kembali ke Provinsi SVD Ende, dan menetap di Biara St. Yoseph, Ende. Meskipun sudah memasuki masa purnabakti, P. Tarsi selalu bersedia melayani permintaan, entah perayaan ekaristi, entah pelayanan sakramen orang sakit, atau sakramen tobat di Kelompok Umat Basis, atau rumah-rumah biara, dan  masih membimbing retret atau rekoleksi untuk biarawan/wati atau kelompok-kelompok umat tertentu, Ia juga memberikan bimbingan rohani bagi siapa saja yang datang kepadanya. Kesehatannya sebenarnya tidak mengalami perubahan yang luar biasa. Pada pertengahan April 2016 ia meminta ke Surabaya untuk melakukan check-up jantung, gula darah, dan mata. Ternyata, itulah perjalanannya yang terakhir, karena setelah menjalani perawatan selama hampir dua bulan di Surabaya, Tuhan memanggilnya pada hari Jumat siang tgl. 1 Juli 2016 dalam usia 70 tahun, dan membebaskannya dari penderitaan jasmaniah.
 
Melihat kembali hidupnya, P. Tarsi sebenarnya bukanlah seorang yang memiliki bakat-bakat yang luar biasa. Ia hanya diberi talenta yang sedikit, tetapi dari yang sedikit itu berhasil ia kembangkan, sehingga membuatnya menjadi berdaya guna dalam tugas pelayanannya. Sepanjang hidupnya selain terlibat dalam tugas kepemimpinan dalam Serikat, dalam karya pastoral parokial, P. Tarsi sejak masih sebagai imam muda  di Paroki Nita, sudah memberikan perhatian khusus kepada pastoral keluarga lewat keterlibatannya dalam Marriage Encounter (M.E.). Pasangan suami-isteri anggota ME sungguh merasakan perhatian P. Tarsi lewat kehadiran dan perannya yang aktip dalam kegiatan-kegiatan ME. Ia juga merupakan bapa rohani bagi banyak orang, baik tua maupun muda, pasangan suami-isteri, ataupun biarawan-biarawati.  Kesiap-sediaan dan kerelaan untuk membantu, membuat orang tidak ragu datang kepadanya untuk  mendapat bimbingan, peneguhan, kekuatan, dan penghiburan. P. Tarsi bagaikan sebatang lilin bernyala, yang memberi terang bagi orang lain; dan lilin itu terbakar dan meleleh, hanya menyisakan remah-remah.
 

P. Tarsi, Selamat Memasuki Kebahagiaan Abadi, dan kiranya tetap mendoakan kami yang masih dalam perjalanan menuju Rumah Bapa.

Share on Facebook
Share on Twitter