Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

KEBENARAN

August 29, 2016

 

“AKU DATANG MEMBERI KESAKSIAN TENTANG KEBENARA”, KATA YESUS.
DAN PILATUS BERTANYA: “APA ITU KEBENARAN?”
 
Pada tanggal 15 Agustus 2016 , bertepatan dengan Pesta Bunda Maria Diangkat Ke Surga, delapan belas frater SVD mengikrarkan kaul kekal di Seminari Tinggi St. Paulus, Ledalero. Pada hari yang sama empat bruder SVD mempersembahkan diri dalam nazar kaul kekal di Biara St. Konradus Ende. Menurut liturgi resmi Gereja, teks Injil yang dibacakan pada Pesta Bunda Maria ini adalah nas dari Injil Lukas tentang madah pujian Maria, yang biasa disebut Magnificat: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk.1:46-47).
 
Karena itu saya heran bahwa para frater yang berkaul pada hari  itu memilih kata-kata Pilatus sebagai motto untuk perayaan kaul kekal mereka: “Apa itu kebenaran?”  (Yoh. 18: 38a). Pilatus mengajukan pertanyaan ini ketika Yesus berkata di depan pengadilan bahwa Dia datang ke dunia untuk memberi kesaksian tentang kebenaran. Yang dimaksudkan Yesus bukanlah kebenaran teoretis seperti yang digeluti mahasiswa di ruang kuliah, melainkan kebenaran tentang hidup dan keselamatan manusia.
 
Maka dalam homili di hari pesta Bunda Maria saya kembalikan pertanyaan itu kepada kepada para frater yang hendak berkaul kekal: ”Kalau seorang yang tidak beriman seperti Pilatus bertanya kepadamu:  Apa itu kebenaran yang sekian menggetarkan hatimu, sehingga kamu berani memilih jalan hidup religius dan mau mengikrarkan kaul seumur hidup sebagai biarawan misionaris dalam Serikat Sabda Allah? Apa yang akan kamu jawab?”
Dan kalau orang-orang muda ini terinspirasi oleh jejak para misionaris pendahulu, kita bisa bertanya lebih lanjut: Apakah kebenaran itu  yang telah mendorong para misionaris pionir SVD dan SSpS satu abad yang lalu untuk datang dari Eropa, dan mengabdikan seluruh hidup mereka di tanah Timor, Pulau Flores, Nusa Sumba, dan pulau-pulau lainnya di Nusantara?
 
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, dalam sebuah audiensi di Roma, Paus Benediktus XVI mengajukan pertanyaan yang hampir sama. Beliau berkata: “Kalau seorang yang tidak beriman atau beragama lain meminta kamu merumuskan dalam satu kalimat singkat apa itu kebenaran yang khas dan unik dari iman kristiani yang mengilhami kamu, apa jawabanmu?”
 
Sri Paus kemudian menjawabnya sendiri dalam dua kata: “Yesus dan Kasih”. Kata pertama, Yesus. Iman kristiani bahwa Allah yang mahabesar itu menjadi manusia dalam darah daging seperti kita, menderita  sengsara dan mati secara keji pada palang salib, adalah kebenaran iman kristiani yang sama sekali tidak bisa diterima akal budi manusia. Kata kedua, kasih. Yesus meringkaskan semua hukum agama dalam satu amanat kasih, dan seluruh hidup serta karya Yesus adalah ungkapan nyata dari kasih ilahi itu. Yesus & kasih. Tetapi dua kata itu sesungguhnya mengungkapkan satu hal saja: “Yesus adalah kasih”. Dengan demikian dua kata itu melebur dalam satu pernyataan kebenaran. Inilah kebenaran iman yang diwartakan oleh Injil.
 
Paus Fransiskus meneruskan gagasan itu dan menulis dalam bulla Misericordiae Vultus (MV) untuk membuka Tahun Kerahiman Ilahi: “Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Bapa” (MV 1). Dialah yang membuka mata orang buta, menegakkan si lumpuh, memberi makan orang-orang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, mengampuni pendosa, mengorbankan nyawa agar kita boleh hidup. Dialah pewahyuan belaskasih ilahi sepenuh-penuhnya: “Tak ada kasih yang lebih besar dari kasih seorang yang menyerahkan nyawa bagi sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15: 13).
 
Orang pertama yang menerima pewahyuan kebenaran tentang kasih ilahi ini, bukanlah seorang filsuf atau teolog, melainkan seorang gadis sederhana dengan hati yang penuh iman, Maria dari Nazaret. Dia tidak mengerti rahasia agung ini dengan cahaya akal budi, tetapi dia menerimanya dalam terang iman: “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dengan kepasrahan iman ini terjadilah inkarnasi, penjelmaan Sang Sabda, seperti yang kita baca dalam prolog Injil Yohanes: “Sabda telah menjadi manusia  dan tinggal di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh 1:14).
Dan Injil Yohanes melanjutkan: “Dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia, sebab hukum taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (Yoh 1: 16-17).
 
Dapatkah kita bayangkan keguncangan batin seorang gadis remaja dan debar cinta yang dirasakannya ketika seluruh kepenuhan kasih dan kebenaran ilahi itu menjadi daging dalam dirinya? Misteri itu terlalu agung untuk dipahami, terlalu besar untuk diselami akal budi. Maka ketika Elisabet menyalami Maria dan berkata: “Terberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu” (Luk 1:42),  Maria langsung meneruskan pujian itu kepada Tuhan, yang telah melakukan karya agung dalam dirinya:   “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”.
 
Dalam madah ini Maria menyebut Tuhan: “Yahwe Juruselamatku”, dalam bahasa Ibrani “Yehosua”, disingkat jadi nama manisnya: “Yesus”. Maka dalam Magnificat, Maria sebetulnya berkata:“Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira dalam Dia yang kini menjadi Yesusku, Allah Penyelamatku”.
 
Sekali lagi: Misteri itu terlalu agung untuk diselami akal budi. Karena itulah Injil Lukas mencatat bahwa Maria menyimpan semua itu dalam hati dan merenungkannya. Maria menyimpan dalam hati ketika ia sama sekali tak mengerti mengapa Dia yang disebut Putra Allah itu lahir di kandang binatang.
Maria menyimpan dan merenungkan dalam hati ketika ia menemukan kembali anak yang tertinggal di kenisah Yerusalem sesudah tiga hari, dan si anak itu balik bertanya: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidak tahukah kamu bahwa Aku harus ada dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk 2:49). Dan pasti lebih lagi Maria menyimpan dan merenungkan dalam hati peristiwa paling tragis ketika Sang Putra tergantung mati pada salib. Tetapi juga pada saat yang paling gelap itu Maria tetap setia pada nazar kaul di masa mudanya dulu: “Aku ini hamba Tuhan terjadilah padaku menurut perkataanmu itu”.
 
Dalam diri Maria kita menemukan seorang  Puteri Israel yang melaksanakan dengan sempurna wahyu fundamental  dalam Perjanjian Lama, yang harus dihafal setiap anak Israel sejak usia paling dini: “Shema Yisrael. Adonai Elohenu, Adonai ehad”. “Dengarlah Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa”. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6: 4-5).
 
Firman ini harus diteruskan kepada anak cucu dari generasi ke generasi. Harus ditulis sebagai tanda pada tangan dan pada dahi: Pada tangan agar karya hidup kita dituntun oleh firman, pada dahi agar budi dan hati manusia dicahayai terang firman. Ia harus ditulis pada jenang pintu rumah, supaya waktu orang pergi keluar firman itu menuntun jalannya, dan  harus dituliskan pada gerbang, supaya waktu ia pulang, firman itu memenuhi rumahnya dengan keteduhan, damai dan sukacita.  Inilah firman yang dihafal setiap anak Israel. Tetapi Maria menghayatinya secara penuh, karena Sang Sabda telah menjadi daging dalam dirinya, “penuh kasih karunia dan kebenaran”.
 
Kaul kekal yang diikrarkan sama saudara kita adalah bagian dari misteri agung yang telah dihayati Maria. Ketiga kaul kebiaraan sejatinya hanya satu kaul saja, yaitu ungkapan cinta yang radikal sebagai jawaban pribadi terhadap kasih Tuhan yang memanggil.
 
Kaul kemiskinan adalah pembebasan dari keterikatan pada harta benda agar Tuhan sendiri menjadi andalan, seperti dikatakan dalam mazmur: “Tuhan, Engkaulah milik pusaka dan warisanku, dalam tangan-Mulah nasibku” (Mzm 16:5).
 
Kaul kemurnian adalah pembebasan dari cinta egosentris yang terpusat pada diri atau orang tertentu saja, agar orang sanggup mencintai Tuhan dengan kasih tanpa pamrih, kasih yang dermawan untuk melayani sesama, khususnya mereka paling yang miskin dan terlupa. Karena “kemiskinan yang paling nestapa ialah keadaan di mana orang tidak lagi dikasihi”, kata Bunda Teresa dari Kalkuta. Melalui kaul ini  orang berusaha menampilkan  wajah belaskasih Allah bagi sesama.
 
Kaul ketaatan: Pengosongan diri dari kehendak dan keinginan pribadi agar orang siap melaksanakan kehendak Tuhan dengan penuh sukacita, ke manapun ia diutus sebagai pewarta Kabar Gembira.
 
Kaul kebiaraan pertama-tama bukanlah beban yang harus ditanggung, atau kurban yang dipersembahkan seseorang untuk Tuhan. Bukan! Pada tempat pertama, kaul adalah anugerah mahaindah yang dihadiahkan Tuhan dari kelimpahkan kasih-Nya yang kekal. Karena itulah seperti Bunda Maria hidup bakti kita harus ditandai kegembiraan Injili dan menjadi sebuah madah pujian untuk Tuhan: “Jiwaku memuliakan Tuhan dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku”.
 
Memang, dalam ziarah panggilan murid-murid Yesus, setiap orang akan menghadapi saat-saat gelap dan sulit. Ketika itu teladan Bunda hendaknya menjadi inspirasi agar kita menyimpan dan merenungkan semua dalam hati, dan tetap tabah dan setia sampai akhir.
 
Misteri agung ini tidak mungkin kita hayati dengan kekuatan sendiri. Tetapi Kristus menjanjikan Roh Kudus kepada murid-murid-Nya. Semoga Roh yang telah menjelmakan Sang Sabda dalam rahim Bunda Perawan, menjelmakannya juga dalam dalam hidup bakti dan perutusan kita misionaris Sabda Allah. Sehingga kalau orang bertanya: “Apa itu kebenaran?”, kita tak perlu menjawabnya dengan argumentasi teoretis atau pun rasionalisasi teologis. Tetapi biarkan cahaya wajah dan kebaikan hatimu dalam penghayatan kaul suci menjadi saksi bahwa ada kebenaran yang terlalu agung untuk dipahami, terlalu indah untuk diselami akal budi. Karena, “Sabda itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita… penuh kasih karunia dan kebenaran”.
 
Provinsial
Catatan: Ditulis kembali dari Kotbah Perayaan Kaul Kekal para Frater di Ledalero, 15 Agustus 2016

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us