Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

KESETIAAN ANAK NELAYAN

November 23, 2016

Enam puluh lima tahun yang lalu, pada Rabu pagi 24 Oktober 1951, diakon Alex Beding SVD ditahbiskan imam oleh Mgr. Antonius Thijssen SVD di gereja Paroki St. Mikhael, Nita. Beliau ditahbiskan bersama lima kawan kelasnya yang kini semuanya sudah marhum. Hanya beliau yang masih bertahan. Maka pada Senin sore, 24 Oktober 2016, sesudah ziarah imamat teramat panjang, beliau mengundang sejumlah konfrater dan sahabat kenalan untuk merayakan Ekaristi syukur bersama beliau. Menjelang usia 93 tahun tenaga fisiknya semakin lemah, jalannya tertatih-tatih, tapi pikirannya masih jernih, sehingga beliau sendiri bisa memimpin perayaan Ekaristi syukur ini. Hidup baktinya selama 71 tahun dalam kaul kebiaraan dan 65 tahun sebagai imam terlalu kaya untuk dikisahkan dalam tulisan singkat ini. Tetapi yang paling yang menakjubkan ialah bahwa sampai usia sekian sepuh beliau tetap membaca, menulis dan menerjemah tulisan-tulisan misionaris Belanda sebagai wasiat sejarah untuk generasi penerus SVD. Dari mana beliau menimba kekuatan untuk tetap setia, tabah dan kreatif sepanjang jalan perutusan sebagai imam biarawan misionaris?

 
Masa kecil P. Alex ditandai dua pengaruh kuat yang membentuk kepribadiannya. Pertama, lingkup alam kampung halaman. Alex berasal dari Lamalera, kampung nelayan di pantai selatan Pulau Lembata. Di sinilah Alex Beding anak sulung keluarga Bapa Karolus Arkian Beding dan Mama Anna Nogo Nudeg dilahirkan 13 Januari 1924. Di kampung asal ini dia mendapat orientasi pertama tentang hidup di antara batu karang, pantai pasir, deru angin, dan debur gelombang laut Sawu. Hari-hari masa kecil yang dilewatkan di antara peledang-peledang nelayan Lamalera yang bertarung di tengah gelombang menangkap ikan paus, telah turut menempa hidupnya jadi liat dan kokoh seperti batu karang, tapi sekaligus tetap bergairah seperti deru ombak yang terus-menerus menebah pantai. Keuletan dan gairah, ketabahan dan semangat mencipta, telah menandai jalan hidup panjang P. Alex Beding, sebagai imam-biarawan-misionaris, dan juga sebagai pendidik dan penulis.
 
Pengaruh kedua yang membentuk masa kecilnya adalah lingkup iman kristiani keluarga Bapa Karolus Arkian dan Mama Anna Nogo, pendoa  yang saleh. Misionaris yang sangat mempengaruhi hidup iman keluarga ini ialah P. Bernhard Bode SVD, yang juga menjadi inspirasi awal benih panggilan dalam hati Alex Beding. P. Bode, misionaris asal Jerman ini, datang menetap di Lamalera dalam bulan September 1920, dan kemudian menjadikan kampung nelayan ini paroki pertama di tanah Lembata. Bapa Karolus Arkian kemudian menjadi seorang rekan kerja misionaris di wilayah ini. Sang ayah mulanya seorang nelayan, tapi kemudian beralih profesi menjadi tukang yang bekerja sama dengan Br. Fransiskus SVD membangun gedung-gedung gereja dan pastoran di banyak tempat. Seperti Yesus  dari Nazaret, Alex adalah anak tukang kayu. Dan seperti murid-murid pertama dari pantai tasik Galilea, Alex adalah anak nelayan yang dipanggil dari pantai laut yang dikenalnya untuk menjadi nelayan di lautan lain, samudra luas yang tak bertepi, yaitu Kerajaan Allah. Tidak kebetulan bahwa doa yang tertulis pada kartu kenangan 60 tahun imamat P. Alex Beding SVD diberi judul “Nelayan Di Lautan Lain”, sebuah saduran dari nyanyian rohani terkenal dalam bahasa Spanyol. Saya kutip beberapa larik:
 
Tuhan, Engkau datang ke pantai tasik

Engkau pandang dalam mataku
Dengan senyum Engkau sebut namaku
Di pantai telah kutinggalkan jalaku
Bersama-Mu aku mau mencari lautan lain
 
Engkau kenal hidupku

Aku tak punya apa-apa
Kekayaanku adalah Engkau sendiri
 
“Kekayaanku adalah Engkau sendiri”, merupakan gema dari ayat Mazmur 16:5: “Tuhan, Engkaulah milik pusaka dan warisanku, dalam tangan-Mulah nasibku” (menurut versi terjemahan Ibadat Harian).
 
Selama pendidikan masa remajanya makin banyak orang yang turut membentuk jati diri anak nelayan ini. Alex Beding memulai Sekolah Desa tiga tahun di Lamalera lalu melanjutkan ke Vervolgschool di Larantuka. Sesudah menamatkan sekolah ini pada usia 12 tahun Alex masuk Seminari Menengah Todabelu tahun 1936 dan menamatkannya pada tahun 1943. Semua gurunya waktu itu misionaris Belanda dan Jerman. Alex dikenal sebagai siswa yang cerdas dan berbakat bahasa, yang sanggup membaca literatur dalam bahasa Belanda, Jerman, dan Inggris. Horizon awal di kampung halaman Lamalera kini menjelma jadi cakrawala budaya yang luas, menjangkau kaki langit yang jauh.
 
Di tengah kecamuk Perang Dunia II dia dan teman-temannya memulai novisiat di Seminari Tinggi Ledalero tahun 1943. Tetapi ketika Seminari Tinggi diduduki Jepang, mereka kembali ke Todabelu dan melanjutkan pendidikan di Rumah Misi yang disebut Rumah Tinggi  waktu itu (kini rumah retret Kemah Tabor). Tahun 1945 sesudah Jepang kalah, mereka kembali ke Seminari Tinggi Ledalero meneruskan studi filsafat dan teologi.
 
Pada tanggal 24 Oktober 1951 diakon Alex Beding bersama lima kawan kelasnya ditahbiskan imam oleh Mgr. Antonius Thijssen SVD di gereja paroki Nita. Baru pada tahun berikutnya, bertepatan dengan pesta St. Petrus pelindung paroki Lamalera tanggal 29 Juni 1952,  P. Alex Beding dan kawannya P. Gregorius Manteiro SVD merayakan misa perdana di kampung asal sebagai imam sulung pulau Lembata. Sebuah perayaan yang sangat meriah, yang akan selalu dikenang dalam sejarah Gereja di tempat ini!
 
Sesudah tahbisannya P. Alex mendapat tugas studi lanjut dalam bidang bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Gajah Mada tahun 1953. Tetapi pada tahun 1954 beliau minta pindah ke Universitas Indonesia, di Jakarta,  karena waktu itu sudah ada rumah misi SVD di Matraman, Jatinegara. Studinya di Universitas Indonesia  diselesaikan pada tahun 1959. Sekembali ke Flores beliau bertugas sebagai pengajar di Seminari Menengah Todabelu, Alma Maternya dulu. Tahun 1962 beliau dibenum menjadi Rektor Seminari Menengah St. Yohanes Berchmans, Todabelu. P. Alex menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat rektor di sini. Waktu itu kebanyakan pengajar dan pendidik  misionaris asing yang berasal dari Belanda, Jerman, Austria, Amerika dan Hungaria.
 
Penugasan ini menandai awal peralihan kepemimpinan dari misionaris Eropa kepada imam-imam pribumi. Dalam hal ini pun P. Alex menjadi yang sulung di antara imam-imam Indonesia yang akan menjadi pemimpin di lembaga pendidikan calon imam ini. Tugas ini diembannya sampai tahun 1965 ketika beliau berangkat ke Roma untuk mengikuti refreshing course di Nemi.  Sekembali dari Nemi beliau meneruskan tugas sebagai pengajar di Seminari Todabelu dan sekaligus menjadi prefek para siswa. Beliaulah yang mendorong murid-muridnya memulai Majalah Florete, yang menjadi ajang pengembangan bakat para penulis remaja.
 
Pada tahun 1970 P. Alex mendapat penugasan baru dari Pimpinan SVD untuk mulai membangun Penerbit Nusa Indah, Biro Naskah, dan Toko Buku Nusa Indah. Beliau mendapat dukungan kuat dari P. Heinz Neuhaus SVD direktur Percetakan Arnoldus Ende. Sebagai direktur Penerbitan Nusa Indah, beliau memberi perhatian utama pada penerbitan Kitab Suci, buku-buku penafsiran Alkitab, buku-buku rohani, buku doa dan nyanyian rohani, dan kemudian juga buku-buku lainnya. Buku-buku yang terkenal dari masa kepemimpinan P. Alex Beding selama 14 tahun adalah buku doa Bapa Kami dan Tuhanlah Gembalaku, buku nyanyi Syukur Kepada Bapa, buku-buku karya Dr. Gorys Keraf  Tata Bahasa Indonesia dan Komposisi yang menjadi best-seller.
 
Di samping tugas sebagai Direktur Penerbit Nusa Indah, pada tahun 1974 beliau memprakarsai penerbitan SKM Dian dan Majalah Kunang-Kunang untuk anak-anak. SKM Dian bertahan lebih dari 25 tahun sebelum digantikan oleh Harian Flores Pos. Kita dapat menyimpulkan bahwa dalam bidang pers dan penerbitan P. Alex Beding adalah juga seorang inisiator, yang berperan sebagai si sulung yang berani mengambil parkarsa.
 
Sejak tahun 1989 P. Alex menghabiskan hari-hari masa tuanya di Biara St. Arnoldus, Larantuka, dengan terus membaca, menulis buku, dan terutama menerjemah tulisan para misionaris Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Dalam kurun waktu 65 tahun beliau telah menerbitkan sekitar 40 judul buku, baik tulisan asli maupun terjemahan. Maka sekalipun beliau tidak pernah menjadi pastor paroki, melalui karya tulisnya beliau telah membentuk sebuah paroki non-territorial yang jauh lebih luas, yang terdiri dari jejaring para pembaca.
 
Kita kembali pada pertanyaan di awal tulisan ini: Dari mana beliau memperoleh kekuatan dan inspirasi utama hidupnya sebagai imam-biarawan-misionaris, juga dalam perannya sebagai pendidik dan penulis? Selain dasar pembentukan di masa kecil dan remaja yang sudah kita bahas di atas, hidup imamatnya ditunjang oleh dua sumber utama.  Yang pertama dikemukakan oleh P. Alex dalam sebuah puisi doa yang ditulisnya dalam buku kenangan Pesta Intan Imamatnya tahun 2011. Puisi itu berjudul “In Verbo Tuo”, yang berarti  “Dalam Sabda-Mu”. Tetapi dalam konteks Injil Lukas bab 5, kisah penjala ikan yang menjadi penjala manusia, ungkapan ini harus diterjemahkan “atas sabda-Mu”, atau “atas perintah-Mu”.  In Verbo Tuo merupakan cuplikan dari kalimat Injil dalam bahasa Latin: “In verbo tuo laxabo rete”, “Atas sabda-Mu aku menebarkan jala” (Luk. 5:5). Sebagai imam-biarawan-misionaris anggota Serikat Sabda Allah P. Alex Beding  menimba kekuatannya dari Sang Sabda dengan tujuan mewartakan-Nya sebagai Kabar Gembira untuk sesama. Seluruh hidup dan pengabdiannya dibaktikan untuk tujuan yang satu ini. Maka dia menulis:


Sia-sia segala jerih-lelah menjala manusia
Jika aku bekerja bukan ‘Atas sabda-Nya’.
 
Sumber inspirasi yang kedua ialah pemecahan roti Ekaristi yang dirayakannya setiap hari sejak tahbisannya dulu. Karena itu tema yang dipilihnya untuk perayaan syukur 65 tahun imamat ini berbunyi: “Perbuatlah ini sebagai kenangan akan Daku” (Luk. 23: 19). Itulah amanat Yesus di malam perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya. Yang dimaksudkan Yesus bukan sekadar memecahkan seketul roti di tangan ini, melainkan memecahkan roti-diri dalam pengabdian kasih untuk sesama.  Pater Alex telah menghayati amanat itu dengan setia dalam pengabdian hidup yang nyata dan menimba kekuatan dari padanya. Dalam cahaya Sang Sabda dan dengan kekuatan Roti Ekaristi, si anak nelayan yang dulu itu masih terus merengkuh dayung di lautan lain, samudera luas yang tak bertepi.
 
P. Leo Kleden SVD
Provinsial

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us