Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

NATAL: SEBUAH TANDA PARADOKSAL

December 20, 2016

 

Inilah tandanya bagimu:
Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin
dan terbaring di dalam palungan
” (Lukas 2:12).

1.  Sepuluh tahun lalu di Roma saya menyaksikan pameran besar aneka ragam kandang Natal dari seluruh dunia, mulai dari yang paling sederhana berupa replika sebuah gua kandang binatang sampai ke model mutakhir dengan konstruksinya yang lebih simbolis dan sugestif. Sewaktu menyaksikan pameran itu di tengah kelimun yang berjubel, saya dengar percakapan seorang bocah dengan ibunya:
 
* - Mama, mengapa kanak Yesus lahir di kandang?
+ Karena waktu itu di Betlehem tak ada tempat untuk mereka di  
   rumah penginapan. 
– Mengapa tak ada tempat untuk mereka?
+ Karena mereka terlalu miskin.
 – Mengapa mereka terlalu miskin, Ma?*
 
Dialog itu masih terus berlangsung ketika saya lewat, sementara ibu itu dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya. Ternyata mata si anak lugu dan murni dengan tepat melihat inti peristiwa Natal: Bayi yang terbaring di palungan itu!
 
Lama sekali saya merenungkan, mengapa di hari Natal Tuhan memberikan sebuah tanda keselamatan dalam diri seorang bayi lemah dan tak berdaya? Mengapa Ia tidak memberikan tanda lain yang  lebih agung dan menggetarkan? Tentu Tuhan punya maksud tersendiri, yang tak terselami nalar insani. Tapi kalau saya boleh menafsir, saya ingin memberi tafsiran secara bertahap.
 
Tahap pertama, marilah kita perhatikan bayi mungil di palungan itu. Sesungguhnya setiap bayi mungil adalah kenyataan paradoksal: Dialah makhluk yang paling lemah dan sekaligus makhluk yang paling kuat.
Seorang bayi adalah makhluk yang paling lemah karena ia tidak dapat bertahan hidup tanpa perhatian serta kasih sayang ibu dan ayah yang mengasuh dan membesarkannya.
Tapi bayi itu makhluk yang paling kuat, karena dalam diri seorang anak tertanam pelbagai macam kemungkinan:
Anak itu dapat tumbuh menjadi seorang guru, petani, nelayan, seniman, pegawai, ilmuwan, dokter, presiden, pendeta, penganggur, peminta-minta, penyair, wartawan, pelukis, penulis dan seterusnya. Begitu banyak kemungkinan ditanam Sang Pencipta dalam diri seorang anak manusia. Dalam arti inilah kita dapat mengatakan bahwa bayi adalah makhluk yang paling kuat.
 
Tahap kedua: Kalau sekarang kita beralih dari sosok seorang bayi menuju kenyataan yang lebih rohani, kita dapat bertanya: Daya rohani apakah yang sekaligus paling lemah dan paling kuat?  Daya itu tak lain adalah kasih. Kasih itu paling kuat, karena ia sanggup menggerakkan manusia untuk melakukan hal-hal besar, bahkan mengorbankan seluruh diri demi orang atau hal yang dicintainya. Tapi kasih itu paling lemah karena dengan segala kekuasaan dan harta yang dimiliki, tak seorang pun sanggup memaksakan kasih dari orang lain terhadap dirinya. Kalau dia memaksa dengan kuasa atau kekerasan, maka yang diterima bukan kasih, melainkan perbudakan. Kalau dia membeli dengan uang, yang terlaksana di sana bukan kasih, melainkan pelacuran. Kasih, anugerah terindah dan paling agung, hanya bisa diberi dan diterima oleh manusia dalam kemerdekaan, dirayakan dari kedermawan hati tanpa pamrih.
 
Tahap ketiga: Kitab Suci berkata: “Allah adalah Kasih”, (1 Yoh. 4:16). Dengan ini kita dihantar ke ambang misteri yang paling tinggi, ke tubir rahasia yang tak terselami. Dan ketika Kasih itu menyampaikan pesan keselamatan di hari Natal, Ia menghadirkannya dalam sosok paradoksal seorang bayi. Manusia sepanjang sejarah sudah terbiasa membayangkan Allah sebagai Tuhan Yang Mahakuasa, Mahabesar, Allahu Akbar.
Wahyu di hari Natal mengajak kita untuk memikirkan kembali dan mengalami kehadiran-Nya atas cara yang lain dari biasa: Allah, Sang Kasih itu, sekaligus mahakuat dan mahalemah! Ia mahakuat karena Ia berfirman maka semuanya terjadi. Namun Ia mahalemah, karena Dia tidak sanggup memaksa aku untuk mencintai Dia. Kalau Dia memaksa maka yang ditemukan hanya perbudakan, bukan kasih.
 
Maka Tuhan pun rela menjadi seperti seorang asing yang mengetuk di ambang pintu. “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya...” (Why.3: 20). Ironis bahwa ketika Tuhan memberikan sebuah tanda keselamatan di hari Natal dalam diri seorang bayi, Almasih terjanji itu tidak menemukan satu rumah pun yang membukakan pintu di Betlehem dan terpaksa dilahirkan di sebuah kandang binatang. Dengan demikian Ia menjadi yang paling miskin dari semua anak miskin.
 
2.   Merenungkan peristiwa Natal dalam konteks Indonesia, saya berpikir: Betapa sering kita memanggil-manggil nama Tuhan dalam perayaan-perayaan keagamaan dan pesta-pesta nasional. Kita berdoa agar Tuhan memberikan keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan kepada rakyat dan bangsa Indonesia.
 
Tetapi seperti Betlehem yang menutup pintu rumah, saya khawatir jangan-jangan Tuhan telah memberi kita sangat banyak tanda keselamatan, tapi kita abai melihatnya dan lalai membukakan pintu untuk menerima anugerah itu. Bagaimana pun juga anugerah keselamatan dari Tuhan pada awalnya selalu berupa seorang “bayi”, yang membutuhkan sebuah rumah serta perhatian dan tanggungjawab kita agar dia tumbuh dan berkembang.
 
Begitu juga keadilan, damai, kesejahteraan diberikan Tuhan hanya dalam bentuk benih-benih yang harus disemai di bumi pertiwi, diairi dan dipupuk, dirawat, dan dijaga agar menghasilkan buah dalam masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.
 
Tapi tidak! Nampaknya bangsa ini emoh memilih jalan panjang, jalan keselamatan yang ditawarkan Tuhan,  yaitu jalan benih kecil yang harus tumbuh perlahan-lahan untuk bisa menghasilkan buah. Banyak orang tergoda mencari instant salvation, keselamatan dalam sekejap. Maka untuk menjadi kaya orang memilih jalan pintas melalui korupsi yang menghancurkan perekonomian negara. Untuk menjadi sarjana orang menyuap dosen dan menyogok tim khusus untuk menuliskan skripsi atau disertasi. Yang kita hasilkan akhirnya sarjana gadungan, dengan gelar doktor dari universitas antah berantah, tapi yang tak bisa berpretasi dalam bidang ilmu apa pun, apalagi bersaing di kancah internasional. Begitu juga untuk menjadi pemimpin, lagi-lagi banyak orang memakai jalan pintas dengan uang dan pelbagai muslihat. Yang tampil kemudian hanyalah pejabat tanpa kualitas kepemimpinan, yang tega mengorbankan nasib rakyat kecil demi kepentingan diri sendiri.
 
Maka baiklah kita simak kembali peringatan dari sebuah kisah tua yang selalu baru ini: Dalam peristiwa Natal hanya para gembala dari padang Efrata datang menyalami Almasih yang lahir, kemudian baru menyusul orang-orang majus dari negeri yang jauh. Sedangkan para imam dan ahli taurat di Yerusalem hanya sibuk membaca ramalan nabi dan memberi tahu raja Herodes bahwa Almasih itu dilahirkan di Betlehem. Herodes dan para pejabatnya jadi panik dan gempar mendengar berita itu, lalu Herodes menyuruh bunuh semua kanak-kanak di Betlehem dan sekitarnya yang berumur dua tahun ke bawah. Untunglah kanak Yesus berhasil dilarikan Yosef dan Maria ke tanah Mesir. Sedangkan anak-anak lainnya habis terbunuh. Maka kita baca dalam Injil: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tak ada lagi” (Matius 2:18). Jadi apakah kita biarkan saja benih-benih harapan rakyat kecil dibabat mati di tanahair? Ternyata kolusi antara pejabat agama dan penguasa politik di Yerusalem dua ribu tahun yang lalu bukanlah yang pertama, bukan pula yang terakhir.
 
Dengan sedih sekali kita baca, misalnya, bagaimana bakat besar anak genius Indonesia yang miskin seperti Lintang dalam novel Laskar Pelangi, layu dan gugur sebelum waktu, ibarat sayap-sayap garuda yang patah atau dipatahkan sebelum sempat membubung tinggi. Kapankah mereka yang tersisih ini masuk ke dalam titik pusat perhatian kita, menjadi prioritas Tarekat, dan menjadi prioritas nasional (menurut UUD 1945, pasal 34), sebagai jawaban atas anugerah Allah demi masa depan bangsa?
 
3. Selama masa Adven kita baca antara lain nubuat Yesaya 35: 1-10 tentang masyarakat baru, Masyarakat Mesianis, yang direncanakan Tuhan. Yesaya melukiskan dengan indah sekali pembaruan seluruh alam sebagai lingkup hidup dan manusia.
 
Pertama pembaruan alam ciptaan:  “Padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorai dan berbunga; seperti bunga mawar ia akan berbunga lebat, akan bersorak-sorak, ya bersorak-sorak dan bersorak-sorai”.
 
Kedua pembaruan manusia : “Pada waktu itu mata orang-orang buta akan dicelikkan, dan telinga orang-orang tuli akan dibuka. Orang lumpuh akan melompat seperti rusa,  dan mulut orang bisu akan bersorak-sorai”.
 
Ketiga, cara hidup dan perilaku manusia diperbarui: 
“Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya. Di situ tidak akan ada singa, dan binatang buas tidak akan menjalaninya... ”. Hanya orang benar, lurus, jujur akan berjalan di atasnya. Semua ini bisa terjadi karena Tuhan sendiri mengalirkan keselamatan itu. Atau dalam ungkapan puitis Yesaya: “Sebab mata air memancar di padang gurun, dan sungai di padang belantara”.
 
     Dapatkah kita biarawan-misionaris dalam seluruh hidup bakti dan perutusan menjadi tanda Masyarakat Mesianis dari Yesus Almasih di tengah bangsa dan tanahair kita? Saya ingin menjawabnya dengan satu cerita kecil sebagai inspirasi, hadiah Natal untuk murid-murid Yesus.
 
      Di sebuah kota kecil di Amerika ada sebuah gereja tua yang sangat sering dikunjungi orang terutama dalam musim semi. Tujuan utama kunjungan bukanlah gereja itu melainkan apa yang ada di belakang gereja. Di situ ada hutan kecil dengan jalan berkelok berbatu-batu. Tapi begitu keluar dari hutan kecil itu terpampanglah di depan mata satu bukit yang seluruh lerengnya ditumbuhi bunga daffodil berwarna merah, putih, kuning, merah muda, dan oranye seperti permadani raksasa yang semalam baru dibentangkan para malaikat.
 
Lalu ketika para pengunjung datang mendekat ke kaki bukit terbaca satu tulisan di pintu pagar:
“Taman daffodil ini dimulai tahun 1958, ditanam umbinya satu demi satu, oleh seorang perempuan sendirian, dengan dua tangan, dua kaki, dan satu otak dengan kecerdasan biasa-biasa saja, tapi dengan hati yang mencintai alam ciptaan Tuhan”.
Ternyata pembaharuan alam yang dilakukan perempuan itu dimulai dari sebuah hati yang mencintai alam ciptaan Tuhan. Dan kasih dari hati itulah yang mengubah bukit gersang menjadi taman daffodil yang tiada taranya.
 
Kasih yang sama semoga menggerakkan hati dan budi kita, mengerahkan tenaga rohani jasmani dalam hidup bakti untuk membangun umat dari wilayah pinggiran yang terlupa, menjadi satu taman yang indah untuk Tuhan.
 
Dibandingkan dengan perempuan tangguh dalam cerita tadi, kita mempunyai dua keunggulan. Pertama, benih yang kita tanam adalah Sabda Allah yang menjelma dan tinggal di tengah kita dengan seluruh daya ilahi-Nya. Kedua, kalau perempuan itu berjuang sendirian, kita punya banyak saudara-saudari murid-murid Yesus yang bertekad melanjutkan hidup bakti dan perutusan Yesus terutama untuk mereka yang miskin dan tersisih. Namun sebaiknya kita tetap ingat: Perempuan tadi menanam umbi daffodil satu demi satu selama bertahun-tahun untuk menjadi taman daffodil yang menakjubkan itu. Yesus sendiri pun telah menempuh jalan panjang benih kecil yang harus jatuh ke dalam tanah dan mati untuk tumbuh dan menghasilkan buah berlimpah. Selamat menempuh jalan Yesus dengan penuh harapan dan sukacita.
 
SALAM DAMAI NATAL 25 DESEMBER 2016
DAN BAHAGIA TAHUN BARU 1 JANUARI 2017


P. Leo Kleden, SVD
Provinsial

Share on Facebook
Share on Twitter