Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

MENGENANG P. LAURENCE HAMBACH, SVD

January 20, 2017

Canton, Ohio, USA, 18 Juni 1933 - Ledalero, 28 Oktober 2016
 

(Ahli Bangunan dan Mesin Jahit telah pergi )

 

Menjelang akhir tahun kedua sebagai penghuni Biara Simeon Ledalero, pada dini hari sekitar jam 01.30 tgl. 28 Oktober 2016 P. Lawrence Joseph Hambach, SVD tutup usia, dan kembali ke haribaan Bapa di surga. Syaraf terjepit di tulang belakangnya yang selama ini sering menyebabkan kram pada kakinya dalam beberapa minggu terakhir menimbulkan kesakitan yang luar biasa, dan mengganggu sistim syaraf dan kesadarannya sampai saat ajal menjemputnya.

P. Lawrence Hambach dilahirkan pada tgl. 18 Juni 1933 di Canton, Ohio, Amerika Serikat sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Oleh orang tuanya, Bapa Lawrence Joseph Hambach, Senior, dan Mama Rose Zucal, ia diberi nama Lawrence Joseph Hambach, Junior. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1947, Lawrence Jn. masuk Seminari Menengah SVD di Girard, Pensylvania. Tamat pada tahun 1951, Lawrence Jn. kemudian menjalani masa Novisiat dua tahun dari tahun 1951  - 1953 di Novisiat SVD di Conesus, NY, dan mengikrarkan kaul-kaulnya untuk pertama kali dalam SVD pada tgl. 8 September 1953. Selanjutnya ia berpindah ke Epworth untuk memulai studi Filsafat, yang ia selesaikan pada tahun 1955. Ia kemudian berpindah lagi ke Techny untuk belajar Theologi. Pada tgl. 8 September 1959 mengikrarkan kaul-kaul untuk kekal dalam Serikat Sabda Allah, dan setelah menyelesaikan proses pendidikan dan pembinaan sebagai calon imam dan misionaris SVD, pada tgl. 16 April 1961 Lawrence Hambach Jn. ditahbiskan menjadi imam di Techny bersama ke-15 teman seangkatannya.

Mendapat penempatan pertama untuk Regio SVD Ende, P. Lawrence pun mempersiapkan diri untuk berangkat ke Indonesia. Kebetulan pada hari tahbisannya, hadir juga Bpk. Drs. Ben Mangreng Say sebagai salah satu tamu kehormatan. Dari beliau P. Lawrence mendapat informasi tentang situasi di Flores, dan juga rekomendasi siapa di Kedutaan Indonesia yang perlu didekati untuk urusan visa.
Karena tenggang waktu menunggu visa biasanya cukup lama, para misionaris baru diberi kesempatan untuk mengambil satu bidang studi, atau Antropologi, atau Pendidikan atau Sosiologi. Karena bidang studi Pendidikan dapat  diselesaikan dalam waktu relatip lebih cepat, meskipun tidak terlalu diminatinya, P. Lawrence memutuskan untuk belajar Pendidikan pada Catholic University of America (CUA)   Washington sambil menjalankan tahun pastoral di Divine Word College Washington.

Di luar dugaan, baru satu bulan menjalani studi di CUA ternyata  visanya sudah keluar, dan P. Lawrence harus sudah berangkat ke Indonesia dalam jangka waktu tiga bulan. Ia pun diminta oleh Pimpinan untuk memutuskan studinya, satu hal yang dengan senang ia buat karena memang tidak diminatinya, dan mempersiapkan diri dan segala sesuatu yang perlu untuk segera berangkat ke Indonesia.
Sesudah semua persiapan beres P. Lawrence pun meninggalkan Amerika menuju Indonesia dengan kapal laut President Pierce. Tiba di Tanjung Priuk pada tgl. 21 Pebruari 1962, ia meneruskan perjalanannya ke Surabaya. Sesudah beberapa hari menunggu kapal di Surabaya, ia pun bertolak menuju Flores dengan  dengan kapal Stella Maris, dan tiba di Ende pada tgl. 19 Maret 1962. Selanjutnya ia bersama tiga imam lain dikirim ke Mataloko untuk belajar bahasa dan budaya di bawah bimbingan P. Herman Bader. Setelah selama enam bulan mendapat introduksi bahasa dan budaya, pada bulan Oktober 1962 P. Lawrence pun siap untuk mulai membaktikan diri dalam karya kerasulan di wilayah ini.

Pater Regional SVD Ende, setelah berbicara dengan Bpk. Uskup Larantuka, lewat surat tgl. 9 Juli 1962 menempatkan P. Lawrence di Dekenat Lomblen untuk membantu Pater Deken Ben de Brabander yang juga adalah Pastor Paroki Lewotolo, Gunung Api. Karena itu setelah masa pengenalan bahasa dan budaya di Mataloko dalam bulan Oktober 1962 P. Lawrence langsung berangkat ke Larantuka, dan seterusnya ke Lewoleba untuk mulai bertugas. Setelah beberapa waktu tinggal di Lewoleba untuk pengenalan awal, P. Lawrence ditempatkan di Paroki Lewotolo, Gunung Api, di mana ia bekerja sampai tahun 1966.
Pada tgl. 6 Mei 1966 P. Lawrence diangkat sebagai Rektor Wilayah Lomblen. Pada waktu yang bersamaan ia juga ditunjuk oleh Bpk. Uskup Larantuka sebagai Deken Lomblen. Karena pengangkatan tersebut ia pun berpindah dari Lewotolo ke Lewoleba. Pada tahun 1968 P. Lawrence diberi kesempatan untuk mengikuti Tersiat Nemi, dan sesudahnya berlibur ke tanah airnya, Amerika Serikat. Karena itu dalam bulan Juni 1968 P. Lawrence meninggalkan Lewoleba menuju Kupang untuk mengurus exit-reentry permit,  lalu ke Jakarta, dan seterusnya ke Roma untuk mengikuti Tersiat Nemi dari tgl. 25 Agustus 1968 sampai  tgl.  31 Januari 1969. Langsung setelah selesai Tersiat Nemi P. Lawrence terus menuju  Amerika Serikat  untuk berlibur selama enam bulan.  

Setelah satu tahun berada di luar, baru dalam bulan Agustus 1969 P. Lawrence kembali lagi ke Lewoleba untuk meneruskan tugas pelayannnya di Lomblen. Dalam bulan Agustus 1969 itu juga ia terpilih sebagai Konsultor Regio SVD Ende untuk masa bakti 1969 - 1972. Ia juga terpilih kembali sebagai Rektor Wilayah Lomblen.

Pada tgl. 8 Nopember 1972 P. Jan Weijs, SVD,  Wakil Uskup Larantuka, memindahkan P. Lawrence dari Lewoleba ke Paroki Pamakayo, Solor. Dengan demikian setelah 10 tahun bekerja di Lembata,  P. Lawrence berpindah ke Pamakayo, Solor untuk menjadi Pastor Pembantu Paroki Pamakayo. Pada tgl. 10 Januari 1974 Ia ditunjuk sebagai Acting Pastor Kepala Paroki Pamakayo, dan Pastor Pembantu Ritaebang. Baru pada tgl. 20 Agustus 1975 Bpk. Uskup Larantuka mengangkatnya sebagai Pastor Paroki Pamakoyo.
Setelah delapan tahun bertugas di Solor, P. Lawrence pun harus beralih lagi. Lewat surat tgl. 21 Nopember 1979, Bpk. Uskup Larantuka menunjuk P. Lawrence sebagai Pastor Paroki Hokeng – Riangwulu, berkedudukan di Hokeng. P. Lawrence pun meninggalkan pulau Solor, dan pada tgl. 1 Januari 1980  ia  secara resmi menjadi Pastor Paroki Hokeng. Meskipun   sudah sejak lama Hokeng dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan misi karena adanya Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, Perkebunan Dioses, dan Biara SSpS, tetapi statusnya sebagai paroki masih terhitung baru, karena sebelumnya pusat paroki berada di Riangwulu. P. Lawrence pun secara bertahap membangun fasilitas dan kelengkapan yang perlu, mulai dari administrasi paroki, gedung gereja,  pastoran, dan aula paroki.

Pada tgl. 23 Oktober 1989 P. Lawrence  menulis kepada P. Provinsial menyampaikan keingnannya untuk mengambil cuti ke Amerika untuk mengunjungi mamanya yang sudah berusia 80 tahun. Ia juga menyampaikan bahwa memasuki tahun ke-10 sebagai Pastor Paroki Hokeng ia merasa bahwa sudah saatnya untuk beralih lagi. Menanggapi surat tersebut, setelah P. Lawrence kembali dari cutinya di Amerika, Bpk. Uskup Larantuka lewat surat tgl. 3 Oktober 1990 mengangkat P. Lawrence sebagai Ekonom Keuskupan Larantuka untuk masa lima tahun, terhitung sejak tgl. 1 Nopember 1990. Untuk menjalankan tugas tersebut P. Lawrence pun berpindah dari Paroki Hokeng ke San Dominggo, Larantuka.
Sesuai ketetapan tentang masa tugasnya sebagai Ekonom Keuskupan Larantuka selama 5 tahun, pada tgl. 25 Maret 1996 Bpk. Uskup membebaskan P. Lawrence dari tugas sebagai Ekonom Keuskupan Larantuka. Karena bertepatan dengan masa cutinya, sesudah pembebasan tersebut P. Lawrence berlibur ke Amerika untuk mengunjungi mamanya yang sudah berusia 87 tahun dan diberitakan sedang dalam keadaan gawat. Ternyata ketika P. Lawrence tiba, kondisi mamanya baik-baik saja, dan menurut perkiraan dokter masih bisa tahan beberapa tahun lagi.

Sekembalinya dari cuti, pada tgl. 3 Pebruari 1997   P. Lawrence ditunjuk oleh Bpk. Uskup Larantuka sebagai Pastor Paroki St. Yosef Lewotobi. Dalam suratnya tgl. 6 Pebruari 1997  kepada P. Provinsial, P. Lawrence memberikan sedikit gambaran tentang  Paroki Lewotobi sebagai paroki terkecil dalam Keuskupan Larantuka dilihat dari jumlah umatnya; tetapi baginya sangat berat menjadi pastor di paroki ini  karena usianya yang semakin tua. Meskipun demikian P. Lawrence yakin bahwa Tuhan akan membantu. Dalam keyakinan ini P. Lawrence  dapat bertahan bekerja di Paroki Lewotobi selama 6 tahun.

Pada tgl. 26 September 2002 P. Lawrence menyurati P. Provinsial, menyampaikan bahwa  tahun  ia akan memasuki usia 70 tahun dalam tahun 2003, dan sesuai ketetapan SVD,  dalam usia tersebut harus melepaskan semua jabatan. Karena itu ia berharap bisa bebas dari tugas di paroki, tetapi  ingin tetap tinggal di Keuskupan Larantuka, di mana ia sudah bekerja selama 40 tahun sejak masuk Indonesia, dan merasa at home. Memenuhi harapan P. Lawrence, Bpk. Uskup Larantuka lewat surat tgl. 9 Agustus 2003 membebaskan P. Lawrence dari tugas sebagai Pastor Paroki St. Yoseph Lewotobi, dan selanjutnya menempatkannya   di Bethania  (Rumah Dioses) Hokeng, dengan tugas untuk memperhatikan rehabilitasi dan pemeliharaan Rumah Dioses. Dengan gembira P. Lawrence pun melepaskan tugas pastoral parokial, dan menetap di Bethania Hokeng.

Meskipun sudah memasuki usia pensiun,  selain menjalankan tugas khusus dari Bpk. Uskup Larantuka untuk memperhatikan rehabilitasi dan pemeliharaan Rumah Dioses Bethania, P. Lawrence tetap aktip mengikuti pertemuan-pertemuan pada tingkat Rektorat Wilayah Larantuka dan Dekenat Larantuka, siap memberikan bantuan di mana perlu, seperti  pelayanan pastoral bagi umat di Paroki Hokeng, menjadi bapa pengakuan bagi para Suster SSpS Hokeng, dan memperhatikan pembangunan gereja di beberapa stasi Paroki Hokeng dan Paroki Watobuku. Ia juga dengan rela membantu Provinsi SVD Ende untuk menerjemahkan dokumen-dokumen Serikat ke dalam bahasa Inggeris, membimbing kursus bahasa Inggeris bagi para misionaris SVD yang mendapat penempatan di luar Indonesia, dan rela menerima ketika diminta untuk menjadi anggota Tim Ekonomat Provinsi SVD Ende. 

Pada tahun 2011 P. Lawrence merayakan peringatan 50 tahun imamatnya (16 April 2011). Bagi  P. Lawrence merupakan satu kegambiraan yang sangat besar bahwa ia boleh merayakan peringatan 50 tahun imamatnya itu bersama umat Paroki Hokeng, dan kemudian dengan para Imam se-Keuskupan Larantuka pada kesempatan rekoleksi besar bulan Mei 2011.

Memasuki tahun kesepuluh masa pensiun, pada tgl. 10 Juni 2013 P. Lawrence menyurati Romo Deken Larantuka, menyampaikan bahwa ia tidak dapat lagi mengikuti kegiatan Dekenat, terutama rekoleksi bulanan, karena, sebagaimana ia tulis sendiri, “daya fisik agak menurun, telinga mendengar tidak sempurna lagi, dan otak sudah diasah sampai cukup tumpul”.

Setahun kemudian, dalam suratnya kepada P. Provinsial tertanggal  5 Agustus 2014, dengan mengutip kata Si Pengkhotbah: “Untuk segala sesuatu di bawah langit ada waktunya”, P. Lawrence memohon izin berpindah dari Bethania – Hokeng ke Biara Simeon di Ledalero pada akhir bulan Nopember 2014, dengan harapan bahwa ia masih dapat aktip bekerja di bengkel, terutama memperbaiki perabot rumah dan mesin-mesin jahit. Tentu saja permintaan yang disampaikan secara suka rela ini disambut gembira oleh Pimpinan Provinsi SVD Ende. Karena itu lewat surat tgl. 20 Oktober 2014 P. Lawrence dipindahkan dari Rektorat Wilayah Larantuka ke Biara Simeon Ledalero. Selanjutnya Bpk. Uskup Larantuka lewat surat tgl. 20 Nopember 2014 membebaskan P. Lawrence dari tugas pelayanan di Rumah Dioses Bethania Hokeng, dan menyerahkan kembali P. Lawrence ke Provinsi SVD Ende dengan rasa penuh syukur atas pengabdian selama 50 tahun di Gereja Lokal Keuskupan Larantuka.

Akhirnya setelah 52 tahun mengabdikan diri di wilayah Keuskupan Larantuka, terhitung sejak Oktober 1962 sampai Nopember 2014, P. Lawrence pun meninggalkan Keuskupan Larantuka, dan berpindah ke Biara Simeon Ledalero.

Memenuhi permintaan Pimpinan Provinsi SVD Ende dalam tahun 1996 untuk memberikan biodatanya, P. Lawrence menuliskan informasi terakhir tentang dirinya sebagai berikut:
“1996 s/d ...............: Paroki Lewotobi
Belum mati: masih menanti”
Apa yang dinantikan P. Lawrence akhirnya tiba pada dini hari tgl. 28 Oktober 2016. Di tengah kesunyian pagi Tuhan memanggilnya kembali ke haribaanNya. Selamat Jalan P. Lawrence, doakan kami yang masih menanti.

Share on Facebook
Share on Twitter