Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

FORUM MOSALAKI ENDE-LIO

 

Rektorat SVD wilayah Ende Lio (Rewel) menggelar kegiatan temu mosalaki dari kelima paroki SVD di kevikepan Ende (paroki Detukeli, Mukusaki, Onekore, Wolotolo, dan Wolowaru). Setiap paroki mengutus sekitar 10-15 mosalaki, para imam, anggota DPP (dewan pastoral paroki), dan tamu undangan lainnya.

Forum mosalaki ini digelar di bawah tema, “Mai Sai Kita, Pu’u Uju, Wenggo Nua, Nena Ola, We Nua Mae Ngura, Keka Mae Nggera” (Mari kita bersatu padu, membangun kampung, menata dunia, agar kampung tidak hancur, dunia tidak berantakan).

Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 10-11 Desember 2016 di Paroki Hati Amat Kudus Yesus Wolowaru. Para peserta dijemput dan diterima dengan sapaan dan tarian adat yang meriah pada Sabtu, 10/12. Bapak Silvester Rapa selaku ketua panitia menyapa para peserta dengan ucapan selamat datang dan ajakan untuk duduk bersama di rumah Tuhan. “Mai sai ebe ema-ema mosalaki no ema-ema tua SVD, nai sai gha Sao ria Dua, tage sai gha tenda bewa Ngga’e” (Marilah para mosalaki dan para imam SVD, beranjaklah ke rumah Tuhan, masuklah ke kemah Allah). Sapa Bapak Silvester yg adalah juga camat Wolowaru.


 

 

Setelah disuguhkan dengan minum sore, para peserta dihantar ke penginapan (rumah umat) di lima lingkungan pusat Wolowaru.  Pukul 18.00, semua peserta berkumpul kembali  berkumpul di Gereja untuk mengikuti sesi pendalaman yang dibawakan oleh Pater Adam Satu, SVD, seorang antropolog dan peneliti budaya. Pater Adam menjelaskan kembali pemahaman mosalaki sebagai penguasa adat dalam wilayah tertentu  sambil berpegang pada prinsip “ola mbeo no’o du’a-du’a” atau “kura fangga no’o lowo-lowo, ro’a loka no’o keli-keli” (Setiap orang atau daerah mempunyai pemahaman masing-masing tentang mosalaki). “Sebagai penguasa adat, mosalaki memiliki hak atas tanah dan hal-hal yang berkaitan dengan tanah, memimpin ritus-ritus dalam siklus kehidupan manusia dan menjaga ketertiban kehidupan sosial, mengadili dan menjatuhkan putusan berupa denda (poi atau tunu).” Ujar pater Adam.

Lebih lanjut ia menegaskan kembali peran penting para mosalaki dalam lintas historis karya misi SVD dalam tiga poin ini. Pertama, sebagai penjaga dan penunjuk jalan misionaris. Kedua, menyerahkan tanah-tanah untuk Gereja dan sekolah (ti’i iwa wiki, pati iwa lai), dan ketiga, menjaga persekutuan dengan berpegang teguh pada prinsip peradilan adalah “iwa tolo nia, kai ata sala du sala”(tak memandang muka, yang salah tetaplah salah). “Ketika agama Katolik baru masuk di wilayah Ende Lio, mosalaki tidak menganggap para misionaris ana kalo atau saingan, tetapi sebagai sahabat yang bekerja sama memikirkan nasib masyarakat lewat agama dan pendidikan.” Kata pastor lulusan salah satu universitas di Sydney, Australia itu.

Setelah sesi pendalaman, semua mosalaki berkumpul di Aula paroki Wolowaru untuk upacara sere pane, pati ka mosalaki (makan bersama para mosalaki). Hanya dua hidangan disuguhkan utama, bogedan ndota. Boge adalah potongan daging dalam bentuk yg lebih besar, sementara ndota adalah daging yang dicincang. Kedua melambangkan persekutuan dan keberagaman yang tak tercerai-berai. 

Pada hari Minggu, 11/12, kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh pater Leo Kleden, SVD, Provinsial SVD Ende. Dalam kotbahnya, Pater Leo menegaskan pentingnya pembaharuan diri dari hati untuk membangun kampung dan dunia, sekaligus ia mengucapkan terima kasih kepada mosalaki atas kerja sama yang telah terjalin baik antara mosalaki dan para misionaris SVD. “Terima kasih kepada para mosalaki yang telah menunjuk jalan, memberikan tanah, menjadi pengajar dan penatua, yang sejak awal para misionaris tiba selalu mendukung karya misi Gereja.” Ujar pater Leo.

Acara dilanjutkan dengan sesi disksusi yang difasilitasi oleh pater Herman Sina, SVD dan pater Charles Beraf, SVD. Diskusi lebih difokuskan pada fenomena perantauan yang terjadi di kalangan masyarakat Ende-Lio. Para peserta forum mosalaki dibagi ke dalam kelompok-kelompok dengan menggeluti dua pertanyaan ini; apa tanggapan mosalaki tentang perantauan dan apa peran mosalaki dalam karya pastoral Gereja. “Diskusi ini berjalan dengan sangat baik, tetapi belum banyak menyentuh pada dampak atau akibat perantauan, dan mungkin ini menyimpan kerinduan dalam diri kita untuk mengadakan lagi pertemuan serupa di waktu mendatang.” Kata pater Herman dalam rangkuman akhir diskusi.

Kegiatan forum mosalaki ini ditutup dengan sebuah refleksi biblis yang dibawakan oleh rektor SVD Ende Lio, P. Nikomedes Mere, SVD. Dalam renungan-nya Pater Medes menekankan Gereja sebagai persekutuan tak tercerai-beraikan, dan setiap kita yang telah dibaptis mengambil bagian dalam tritugas mulia Yesus; sebagai nabi, imam, dan raja. “Kita mesti tetap sadar akan panggilan dan tugas mulia ini,tau wenggo nua, nena ola, we nua kita iwa do ngura, keka kita iwa do nggera.” Tandas Pater Medes.

Forum mosalaki ini adalah program dua tahunan rektorat SVD Ende Lio. Dalam rencana, pada tahun 2018, forum ini akan digelar di Paroki Roh Kudus Detukeli.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us