Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

SPIRITUALITAS - KEPEMIMPINAN RELIGIUS

October 18, 2017

 

Pada tanggal 1 Juni 2017 terjadi estafet kepemimpinan, serah terima tugas pelayanan dari Dewan Pimpinan Provinsi SVD Ende yang lama kepada Dewan Pimpinan baru, dengan masa bakti selama tiga tahun, yaitu untuk periode 2017-2020. Kita menyertai Dewan Pimpinan baru ini dengan doa agar Tuhan memberi mereka kekuatan dan kebijaksanaan dalam memimpin provinsi kita. Sesudah pergantian pimpinan provinsi ini akan menyusul peralihan tugas rektor-rektor rumah dan wilayah serta petugas-petugas yang lain dalam Provinsi Ende. Catatan ini ditulis sebagai hadiah rohani kecil untuk semua saudara yang akan mengemban tugas kepemimpinan dalam bidang pelayanannya masing-masing. Kita ingin menggarisbawahi empat aspek dari spiritualitas kepemimpinan religius.

1. Kepemimpinan religius adalah sebuah tugas rohani berdasarkan panggilan. Seorang pemimpin komunitas religius tidak memilih dirinya sendiri. Ia menerima tugas ini berdasarkan panggilan Tuhan. Tokoh alkitabiah yang dapat menjadi inspirasi untuk kita ialah Musa (Kel. 3-4). Pada mulanya Musa berusaha dengan segala daya dan dalih untuk mengelak dari tugas panggilan yang diberikan Tuhan. Tetapi kemudian dia menerimanya dan melaksanakan dengan penuh tanggung jawab. Kita catat empat jasanya. Pertama, dia memimpin umat Israel keluar dari tanah perbudakan dan menghantarnya ke negeri kemerdekaan. Dengan ini kita belajar bahwa pemimpin sejati tidak membelenggu, tapi memedekakan. Kedua,  Musa menyatukan Israel sebagai umat yang hidup menurut firman Tuhan dalam perjanjian Sinai, yang bisa diringkas dalam firman: “Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu Israel umatKu”. Seorang pemimpin religius ialah orang yang menyatukan umat untuk hidup bersama sebagai komunitas beriman menurut fimran Tuhan. Inspirasi firman Tuhan ini dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman hidup bakti atau konstitusi tarekat religius. Ketiga, Musa berdoa untuk umat Israel, “bangsa yang tegak tengkuk”, setiap kali mereka memberontak dan melawan perintah Tuhan. Dari Musa kita belajar bahwa kepemimpinan religius hanya bisa dilaksanakan dengan doa yang sungguh. Melalui doa kita disadarkan bahwa pemimpin umat yang sesungguhnya ialah Tuhan sendiri, sedangkan kita hanya alat sederhana dalam tangan penyelenggaraan-Nya. Keempat, Musa menyiapkan Yosua sebagai pemimpin menggantikan dia menuju ke tanah terjanji. Seorang pemimpin religius tahu bahwa horizon Kerajaan Allah tetap tidak terjangkau, sehingga selalu dibutuhkan pemimpin baru untuk mengambil langkah-langkah konkret menuju kaki langit nun jauh. Kalau dulu Musa mendengar suara Tuhan dari dalam belukar duri yang bernyala, kini kita mendengar suara itu melalui sama saudara yang memilih pemimpinnya.

2. Menurut contoh Yesus, panggilan menjadi pemimpin itu dimaksudkan “bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani” (Mrk. 10: 45). Pelayanan ini dijabarkan baik dalam tugas animasi, koordinasi dan administrasi, maupun dalam perannya untuk membawa penyembuhan dan rekonsiliasi. Teladan pelayanan Yesus yang tak terlupakan diberikan-Nya pada malam perjamuan akhir, ketika Ia membasuh kaki para murid (membasuh kaki kita), dari debu jalan-jalan lama yaitu jalan keangkuhan dan ingat diri dan memberi kita kemerdekaan untuk menempuh jalan baru, jalan pengabdian dan kasih. “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu” (Yoh. 13: 13-14).

3. Inti spiritualitas kepemimpinan dalam Gereja dan dalam komunitas religius kita temukan dalam dialog Yesus dan Simon Petrus (Yoh. 21: 15-19). “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” “Benar, Tuhan, Engkau tahu aku menghasihi Engkau”. Petrus telah menyangkal Tuhan dan Gurunya dengan sumpah sampai tiga kali di depan umum. Menurut adat Timur, dengan itu hubungan pribadi terputus sama sekali sampai mati. Tetapi Yesus menunjukkan belaskasih yang tak terhingga dengan mengampuni Petrus dan memberi kesempatan untuk rekonsiliasi di tepi pantai di mana dia dipanggil dulu. Di pantai yang sama, disaksikan oleh rekan-rekan nelayan yang sama, Petrus mengucapkan puncak pengakuan kasih: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Atas dasar pengakuan kasih inilah Kristus mempercayakan tugas kegembalaan kepada Petrus untuk memimpin umatNya. Dengan ini menjadi jelas bahwa inti spiritualitas kepemimpinan kristiani adalah kasih kepada Tuhan yang dinyatakan dalam pelayanan kasih untuk sesama.

4. Kepemimpinan religius ini bersifat partisipatif, karena sesungguhnya: “Pemimpinmu hanya satu, yaitu Kristus”, firman Tuhan (Mat. 23: 10), “sedangkan kamu semua adalah saudara” (Mat. 23: 8). Partisipasi dalam kepemimpinan dilakukan atas dua cara, yaitu melalui kerja sama dewan dan melalui prinsip subsidiaritas. Berdasarkan asas subsidiaritas ini setiap anggota mengambil bagian dalam kepemimpinan menurut tugas dan wewenang yang dipercayakan kepadanya. Semua ini akan kita lakukan dengan baik kalau kita tetap menghayati semangat dialog, yaitu “sikap solider, hormat dan kasih”, dalam seluruh perilaku dan kegiatan kita.

Semoga Yesus, Tuhan, Pemimpin kita satu-satunya itu, memberkati Dewan Pimpinan baru dan membantu kita sekalian dengan Roh Kudus-Nya untuk mengambil bagian dalam tugas kepemimpinan yang dipercayakan kepada kita. Selamat bertugas, selamat melayani!

P. Leo Kleden, SVD
Provinsial Purna Bakti



 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us