Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

MASSAI

August 3, 2017

Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing
sebab kamu pun dahulu orang asing 
” (Ul.10:19).
 
                                                                          1

 

 

Ketika melakukan kunjungan kerja ke Kenya dan Tanzania pada tahun 2001 saya mulai berkenalan sedikit dengan orang Massai. Mereka ini suku pengembara yang tidak memiliki tempat hunian tetap. Mereka mengembara dari padang ke padang penggembalaan dengan kawanan kambing, domba dan sapi. Bila mereka menemukan padang rumput yang cukup luas dan subur, mereka tinggal beberapa waktu di tempat itu. Mereka membangun pondok sederhana dari ranting-ranting kayu dan mengatapinya dengan daun-daun yang ditempeli tahi sapi yang cepat mengering di padang belantara itu. Makanan utama mereka ialah susu sapi yang dicampur dengan maizena. Di depan pondok orang Massai biasa digantungkan satu kirbat (kantong kulit) berisi susu segar, agar pengembara di padang gurun bisa minum bila merasa lapar atau haus.
 
Pada suatu hari seorang pastor di Kenya mengajak saya mengunjungi sebuah pondok satu keluarga Massai. Sebelumnya dia sudah memberi tahu mereka bahwa ada tamu yang datang dari negeri yang jauh. Ketika kami datang, keluarga Massai ini duduk dalam pondok mereka dalam bentuk lingkaran. Menurut adat, di saat tamu masuk, mereka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tamu harus memandang muka anggota keluarga ini satu demi satu lalu mengatakan: “Saya sudah lihat kamu punya muka”. Lalu bapa keluarga itu mengucapkan selamat datang ke pondok mereka dan mempersilakan tamu menyantap makanan yang sudah mereka sediakan. Sesudah makan, bapa keluarga itu berkata: “Engkau datang dari jauh. Kami tidak kenal engkau, engkau tidak kenal kami. Tetapi sekarang engkau sudah lihat muka kami, kami sudah lihat mukamu. Kita sudah makan dari satu periuk, kita minum dari satu kendi. Engkau bukan lagi orang asing, engkau saudara kami”.
 
Betapa mengharukan bahwa saya boleh mengalami kedermawanan hati yang sekian tulus dari keluarga sederhana ini! Ada semacam pengalaman religius yang tak terlukiskan saat itu. Tiba-tiba saya teringat kemah Abraham di Mamre yang dikunjungi tiga orang asing pada suatu siang yang terik (Kej.18: 1-15) Ternyata melalui sosok tiga tamu itu Tuhan sendiri datang mengunjungi Abraham dan Sara di perkemahan mereka. Seperti pengalaman Abraham, saya pun merasakan bahwa pada saat itu pondok keluarga Massai dipenuhi cahaya kehadiran Tuhan, yang melimpahi kami dengan berkat-Nya, dan menjadikan kami semua bersaudara. “Engkau bukan lagi orang asing, engkau saudara kami”.
 
                                                                               2
 
Ketika Donald Trump, presiden negara adidaya itu, mulai membangun tembok pemisah sepanjang perbatasan Amerika Serikat dan Mexico dan bertekad menutup pintu bagi para migran, dia sendiri lupa bahwa dia sendiri adalah keturunan migran, orang asing yang pernah datang ke benua Amerika. Dalam sistuasi global dewasa ini siapa asli dan siapa asing sebenarnya? Penelitian DNA menunjukkan bahwa secara biologis setiap kita adalah campuran dari pelbagai macam etnik sejak zaman leluhur kita. Begitu juga ilmu pengetahuan yang kita pelajari adalah warisan budaya dari pelbagai bangsa sepanjang sejarah. Kebudayaan di pulau-pulau Nusantara merupakan pembauran budaya Melayu, Melanesia, India, Tiongkok, Jepang, Arab, Eropa dan seterusnya. Kosakata bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu, dengan resapan dari bahasa Jawa, Sunda, Arab, Inggris, Belanda, Portugis, Prancis, Tionghoa, Jepang, Latin dan entah apa lagi. Tanpa sadar identitas atau jati diri setiap kita tersangkut paut dengan jutaan orang dari pelbagai suku bangsa. Maka tidak kebetulan pengarang besar Pramoedya Ananta Toer memberi judul dua novel sejarahnya  yang terkenal itu Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Sesungguhnya setiap kita adalah anak semua bangsa di bumi manusia yang satu. Kenyataan multikulturalitas adalah fakta yang tak terbantahkan. Yang lebih penting ialah mengembangkan kompetensi interkultural, di mana kita bersikap terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam dan mengembangkan hal-hal yang potisif dari kebudayaan-kebudayaan itu untuk memperkaya hidup pribadi dan masyarakat sebagai persekutuan yang lebih manusiawi.
 
Sebagai Misionaris Serikat Sabda Allah kita adalah pewarta firman yang diutus melintas batas, entah itu batas suku bangsa, budaya, lingkup sosial atau pun agama. Karena itulah kita wajib memberi perhatian khusus bagi orang asing, kaum migran dan para pengungsi serta mereka yang terpinggirkan. Kapitel Provinsi Ende XXII bulan November 2015 sudah merumuskan RENSTRA  di mana kita bertekad memberi perhatian khusus kepada para penyintas HIV dan AIDS serta para korban perdagangan orang. Tetapi baiklah kita ingat bahwa komitmen kita untuk mereka ini mempunyai dasar terdalam bukan pada dokumen-dokumen Tarekat, melainkan pada firman Tuhan sendiri: “Haruslah kamu menunjukkan kasihmu kepada orang asing sebab kamu pun dahulu orang asing” (Ul.10:19).  Khusus dalam masa Prapaska ini kita diingatkan: “Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu untuk orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri” (Yes. 58: 6-7). Namun  kita perlu belajar melayani saudara-saudari kita ini dengan kerendahan hati yang luar biasa. Karena ketika kita memberi bantuan, kita menerima dari mereka sesuatu yang tidak bernama, yang menjadikan hidup kita lebih bermartabat dan terberkati. Semoga dalam setiap pelayanan untuk orang-orang kecil, mereka yang asing dan terlupa, orang miskin dan terpinggirkan, kita berani menatap wajah sesama dan saling menyapa dengan gembira:
“Engkau bukan lagi orang asing, engkau saudara kami”.
 
Leo Kleden SVD
Provinsial

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us