Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

SABDA DIAM DI ANTARA KITA

December 27, 2017

 

Pada masa Natal dan masa persiapan Kapitel Jenderal XVIII, yang didahului Kapitel XXIII Provinsi SVD Ende baik kalau kita mendalami tema “Sabda Berkemah Di Antara Kita.” Dalam Yoh. 1:14 tertulis bahwa Firman itu “diam di antara kita.” Kata kerja “diam” di sini merupakan terjemahan dari Bahasa Yunani eskēnōsen (masa lampau), yang secara harfiah berarti “telah mendirikan kemah di antara kita,” atau “telah berkemah di antara kita.” Memasang kemah (Yunani: skēne) berbeda dari mendirikan rumah (oikos) dan tinggal dalam kemah tentu berbeda dari berdiam dalam rumah.

 

Sekurang-kurangnya ada dua kekhasan kemah dibandingkan dengan rumah. Pertama, kemah itu mudah dipindahkan karena ringan, sedangkan rumah sulit dipindahkan. Kedua, kemah lebih sederhana dari pada rumah, karena bahannya sederhana; sebaliknya rumah dibuat dari kayu dan batu yang berat, sehingga sulit dipindahkan. Kekhususan kemah terletak pada mobilitasnya dan kesederhanaannya. Atas dasar sifat-sifat inilah kita bisa memahami makna “Sabda berkemah di antara kita.”  


Sabda itu sederhana dan mudah bergerak. Dia tidak terikat pada waktu dan tempat atau pada suku dan agama, karena sabda itu roh dan kebenaran (Yoh. 6:63). Dia ada di semua tempat dan pada segala zaman. Dia hadir dalam semua suku bangsa dan agama serta kebudayaan. Dia tidak bisa dikurung oleh agama tertentu atau kelompok tertentu yang menganggap dirinya sebagai satu-satunya agama yang benar atau sebagai bangsa terpilih. Dia bisa meninggalkan orang yang menolak-Nya dan tidak menghasilkan buah, lalu pergi kepada orang lain yang menerima-Nya dan menghasilkan buah. Kebenaran ini tampak dalam pengalaman Rasul Paulus. Pewartaannya tentang sabda yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus ditolak oleh orang sebangsanya, sehingga dia mewartakan-Nya kepada bangsa-bangsa lain. Demikian juga perumpamaan tentang para pekerja kebun anggur, di mana sabda tentang kerajaan Allah diambil dari para pekerja yang tidak menyerahkan buah pada waktunya dan diserahkan kepada yang lain yang akan menghasilkan buah dan menyerahkannya kepada pemiliknya (Mrk. 12:1-12).   

Kebebasan Sang Sabda ditunjukkan tidak hanya dalam kemudahan untuk bergerak, melainkan juga dalam menyatakan diri-Nya kepada manusia. Dia membiarkan diri-Nya ditemui oleh semua orang, tetapi hanya orang yang mencari-Nya dengan tulus hati bisa menemukan-Nya. Dia tidak bisa dikenal oleh orang yang menolak Dia (bdk. Yoh. 1:11). Hal ini tampak dalam ceritera tentang peristiwa kunjungan orang majus dari Timur ke Betlehem dalam Mat. 2:1-12.

 

Orang-orang majus dari Timur bertanya: “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur” (Mat. 2:2). Bintang bagi orang-orang majus itu merupakan suatu pernyataan bahwa telah lahir seorang raja bagi orang Yahudi. Bintang itu mewartakan kepada mereka kabar baik tentang kelahiran seorang raja dan menjadi pedoman bagi mereka untuk mencari tempat kelahiran-Nya. Tujuan mereka juga jelas, yaitu untuk menyembah Dia. Pencarian mereka adalah sebuah pencarian yang tulus. Mereka akhirnya menemukan Dia berkat bantuan dua pedoman, yaitu bintang dan Kitab Suci yang ditafsir oleh para imam dan ahli Taurat (Mat. 2:4-6).

 

Sebaliknya raja Herodes, para imam dan ahli Taurat tidak menemukan Dia. Herodes sangat ingin menemukan anak itu dengan tujuan yang terungkap secara tersurat: “supaya akupun menyembah Dia” (Mat. 2:8). Akan tetapi pembaca tahu bahwa secara tersirat dia mempunyai tujuan yang bertentangan dengan orang-orang majus itu. Karena itu dia tidak menemukan-Nya. Bahkan sesudah dia tahu bahwa dia tertipu, dia sangat marah dan memerintahkan untuk membunuh secara babi buta semua anak Betlehem dan sekitarnya yang berumur dua tahun ke bawah (Mat. 2:16). Herodes  tidak menemukan Dia di antara anak-anak yang dibunuh itu. Sang Sabda tidak menampakkan diri-Nya kepada orang yang menggunakan Kitab Suci untuk tujuan yang tidak baik.

 

Demikian juga para imam dan ahli Taurat. Mereka juga tidak menemukan Dia. Mereka hanya berhasil menemukan ayat Kitab Suci tentang tempat kelahiran-Nya. Sabda itu sendiri tidak mereka jumpai, karena mereka tidak mencari Dia untuk bertemu dengan-Nya. Mereka rajin membaca Kitab Suci dan tahu menafsirnya, tetapi lebih sebagai hukum dari pada sebagai sarana untuk mencari Tuhan dan untuk bertemu dengan-Nya. Mereka mencari petunjuk dalam Kitab Suci tentang tempat kelahiran raja Yahudi itu karena disuruh Herodes, bukan karena pencarian pribadi.

 

Dari teks-teks di atas dapat kita temukan beberapa makna Sabda yang berkemah di antara kita: Pertama, Sang Sabda dengan sengaja memilih bentuk hidup sederhana (berdiam dalam kemah), agar Dia mudah bergerak membawa warta-Nya ke mana-mana dan agar perhatian-Nya tidak terbagi; hanya kerajaan Allahlah pusat perhatian-Nya. Kedua, Dia mau menampakkan diri-Nya kepada semua manusia agar orang yang percaya kepada-Nya selamat;  tetapi tidak semua orang menemukan-Nya, karena Dia hanya tampak kepada orang-orang yang mencari-Nya dengan tulus hati dan yang mau menjadikan-Nya pedoman di jalan hidup mereka. Ketiga, Dia ada dalam bintang di langit dan di “kandang hewan,” tetapi hanya dengan bantuan Kitab Suci Dia bisa dikenal dengan baik dan tepat. Kita akan semakin berakar dalam Dia, jika kita rajin membaca Kitab Suci seperti para ahli Taurat, tetapi dengan hati seperti orang-orang majus dari Timur dan para gembala yang berbaur dengan domba-domba mereka.

 

Selamat Pesta Natal dan Tahun Baru!
 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us