Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

SABDA ITU ESA DAN BHINEKA

November 3, 2017

 

Kita berada dalam masa peralihan pimpinan. Serah terima pimpinan Provinsi dari yang lama ke yang baru sudah terjadi pada 1 Juni yang lalu, sedangkan proses pergantian pimpinan komunitas-komunitas formasi dan komunitas besar baru selesai dalam bulan Agustus-September 2017. Atas nama pimpinan Provinsi yang baru saya menyampaikan terima kasih berlimpah kepada pimpinan Provinsi yang lama serta pimpinan Rumah dan Wilayah  yang akan diganti dengan yang baru. Tuhan memberkati mereka dalam tugas yang baru.
Sebagai pimpinan Provinsi yang baru kami memilih motto: “Sabda itu esa dan bhineka.” Ini sesuai dengan jati diri kita sebagai Serikat Sabda Allah dan konteks kita sekarang. Kebhinekaan, yang menjadi kekhasan kita, sedang terancam oleh radikalisme baik di Indonesia maupun di dunia pada umumnya. Misi kita dalam konteks ini ialah memperjuangkan kesatuan dalam kebhinekaan yang saling memperkaya satu sama lain. Dua sifat Sabda di atas perlu diperdalam.

Pertama-tama, esa mengingatkan kita akan Allah esa. Terkandung di dalamnya ialah Putera Allah yang tunggal. Dialah sabda yang menjadi daging (Yoh. 1:14). Dia hanya satu. Esa juga berarti kesinambungan. Sabda Allah dalam Perjanjian Lama berkelanjutan dalam Perjanjian Baru, bahkan akan tetap sampai selama-lamanya. Lebih dari itu, esa menunjuk kepada konsistensi dan kesatuan. Allah konsisten dengan sabda-Nya. Dia tidak berkata lain, lalu berbuat lain. Ada kesatuan antara perkataan dan perbuatan-Nya. 

Keesaan Sabda seharusnya mempunyai dampak bagi hidup kita baik secara pribadi maupun sebagai komunitas. Secara pribadi kita perlu bertumbuh dalam kesatuan dengan Sang Sabda (Kons. 407) melalui pembacaan dan permenungan Kitab Suci yang setia setiap hari. Gereja kita menyiapkan bacaan Kitab Suci harian yang sangat membantu pertumbuhan rohani kita. Orang yang setia membaca dan merenungkan bacaan-bacaan Kitab Suci perlahan-lahan akan diubah menjadi semakin serupa dengan Sang Sabda. Dia akan semakin konsisten dalam perkataan dan perbuatannya, karena dengan semakin sering membaca dan merenungkan teks yang sama dia akan semakin yakin akan kebenarannya, yang pada gilirannya akan mendorongnya untuk melakukannya.

Sebagai komunitas, Sabda seharusnya menjadi pemersatu kita yang utama. Kita dipanggil dan dikumpulkan oleh Sang Sabda ke dalam satu Serikat, maka kesatuan kita sebagai komunitas bisa semakin kuat dan kita akan semakin bersemangat dalam bermisi, jika Sabda itu menjadi pusat hidup kita. Sesungguhnya, Roh Tuhan sedang menggerakkan kita untuk lebih erat bersatu dengan Sang Sabda dan semakin berakar di dalam-Nya, melalui persiapan Kapitel Jenderal XVIII yang akan terjadi tahun 2018.

Kedua, Sabda itu bhineka. Sabda yang esa mengungkapkan diri dalam kebhinekaan. Dia ditemukan pertama-tama dan terutama dalam Kitab Suci, tetapi juga dalam alam, kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama. Kebenaran ini bisa dilihat dalam Kitab Suci sendiri, antara lain dalam Yer. 1:1-3 melalui penggunaan kata Ibrani dabar (firman) dandebarim (perkataan-perkataan). Kata dabar yang diulang tiga kali dalam tiga ayat pada awal Kitab Yeremia menunjukkan bahwa seluruh kitab ini dengan keanekaan bentuk sastranya berisikan sabda Tuhan (tunggal), bukan sabda-sabda Tuhan. Ini tampak dalam penggunaan kata dabar YHWH (sabda Tuhan) yang berbentuk tunggal dan debarim (perkataan-perkataan) Yeremia yang berbentuk jamak. Jika dilihat dalam hubungan dengan seluruh kitab, kenyataan ini mau mengungkapkan bahwa firman Tuhan yang esa diungkapkan Yeremia dalam banyak perkataan dan banyak bentuk sastra, seperti ceritera, puisi, lamentasi, kotbah, dan perbuatan simbolis. Sabda yang esa diungkapkan dalam kebhinekaan bentuk sastra.

Kebhinekaan sabda Tuhan juga tampak dalam kebudayaan-kebudayaan dan agama-agama. Sabda Tuhan: “Kasihi sesama manusia,” ditemukan dalam semua kebudayaan dan agama. Demikian juga sabda: “Hormatilah orangtua.” Semua kebudayaan dan agama menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan perdamaian. Ini juga sabda Tuhan. Sabda yang esa diungkapkan secara berbeda dalam berbagai kebudayaan dan agama.

Bagi kita masyarakat Indonesia, keesaan dan kebhinekaan sabda sangat nyata dalam Pancasila. Kelima nilai: iman akan Allah esa, kemanusiaan, persatuan, musyawarah untuk mufakat, dan keadilan social merupakan nilai-nilai universal yang tidak lain dari pada firman Tuhan sebagai logos spermatikos, sabda yang tersebar dalam semua kebudayaan dan agama di Indonesia. Bung Karno, seorang Muslim dan pemimpin yang terbuka pada kebenaran dan kebhinekaan, mampu melihat nilai-nilai tersebut dalam berbagai kebudayaan dan agama di Indonesia, lalu merumuskannya dalam Pancasila yang menjadi dasar Negara dan unsur pemersatu bangsa.

Sabda yang esa dan bhineka adalah jati diri kita. Konsekuensinya, misi kita ialah memperjuangkan kesatuan dan kebhinekaan dalam Serikat, Gereja dan masyarakat di wilayah kita bekerja. Sabda seharusnya menjadi pusat hidup kita. Persatuan kita dengan Sang Sabda seharusnya meluap dalam bentuk semangat misi dalam kerasulan Kitab Suci, animasi misi, perjuangan demi tegaknya keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan; dan ini semua menjadi isi yang harus dikomunikasikan kepada masyarakat

P. Lukas Jua, SVD
Provinsial

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us