Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

Br. YULIUS BENGE : FORMATOR PERTANIAN

January 24, 2016

Pada hari Sabtu tgl. 5 Desember 2015, sekitar jam 05.00 pagi Br. Yulius Fransiskus Benge, SVD dengan tenang menghembuskan nafasnya yang terakhir di Biara Simeon, Ledalero, kembali ke haribaan Bapa di surga. Ia meninggal dalam usia 75 tahun.
Br. Yulius dilahirkan di Detukeli pada tgl. 25 September 1940. Oleh orang tuanya, Bapa Sewa, dan Mama D’iki, ia diberi nama Fransiskus Benge. Setelah menamatkan Sekolah Rakyat di Detukeli, Br. Yulius masih tinggal di kampung, membantu kedua orang tuanya. Memasuki usia 18 tahun, ia mengajukan lamaran untuk menjadi Bruder SVD, dan pada tgl. 10 Agustus 1958 ia diterima di Biara St. Konradus, Ende sebagai Kandidat Bruder.
Selama masa kandidat dari tahun 1958 - 1961 ia mengikuti pendidikan Sekolah Usaha Tani (SUT) sekaligus menjalani pelatihan dalam bidang pertanian dan peternakan di Biara St. Konradus. Pada tgl. 8 September 1961 ia memulai masa Novisiat di Biara St. Konradus, dan memilih nama YULIUS. Dua tahun kemudian, pada tgl. 8 September 1963 ia mengikrarkan kaul-kaulnya untuk pertama kali sebagai Bruder SVD. Sesudah itu ia masih tinggal di Biara St. Konradus untuk menjalani masa yuniorat sambil menyelesaikan pendidikan SMP pada SMP Filial Biara St. Konradus.
Pada akhir masa yuniorat lewat surat tgl. 1 September 1966 Pater Regional Nic. Apeldorn, SVD menempatkan Br. Yulius bersama teman seangkatannya, Br. Laurens Wisang, di Seminari San Dominggo, Hokeng. Karena Br. Yulius dan Br. Laurens sama-sama berlatar belakang pendidikan pertanian dan peternakan, Pater Rektor Seminari San Dominggo Hokeng akhirnya menetapkan Br. Yulius sebagai pengurus rumah Seminari dan sebagai bapa asrama karyawan Seminari.
Setelah bertugas selama dua tahun di Seminari San Dominggo Hokeng, pada akhir tahun 1968 Br. Yulius  kembali ke Biara St. Konradus untuk mempersiapkan diri untuk berkaul kekal. P. Piet Muda, Rektor Seminari San Dominggo Hokeng memberikan catatan tentang Br. Yulius sebagai berikut:
“Br. Yulius mempunyai pendidikan pertanian. Waktu ia ditunjjuk untuk Seminari Hokeng, ia ditentukan sebagai penyelenggara rumah tangga (huishouding), satu hal yang baru sama sekali untuk dia. Mula-mula agak sulit; ia harus belajar banyak, tetapi lama-kelamaan ia menjadi terbiasa. Bidang kerjanya luas, segala-galanya harus diperhatikan: perbaikan cara kerja di gudang beras supaya lebih kurang dicuri, mengurus dapur, pimpin pelayan-pelayan baik bagi Patres maupun bagi siswa Seminari. Di samping itu ia menjadi bapa asrama pekerja Seminari dan membuat aturan bagi mereka. Sana-sini ada perbaikan. Maklumlah, asrama ini tidak pernah mempunyai bapa asrama. Tidak kenal aturan. Pagi-pagi tidak pernah ada misa pada hari biasa. Br. Yulius memberikan aturan-aturan asrama, dan sejak  dia  menjadi bapa asrama mereka mulai misa. Pendek kata dalam dua tahun lebih ini ia telah bekerja banyak untuk kepentingan Seminari, untuk perbaikannya. Rektor sendiri merasa pekerjaannya sangat diringankan olehnya”.
Dengan dukungan kuat dari Konfrater di Seminari San Dominggo Hokeng, pada tgl. 8 September 1969   Br. Yulius mengikrarkan kaul-kaulnya untuk kekal sebagai Bruder dalam Serikat Sabda Allah di Biara St. Konradus. 
Karena mendapat penempatan pertama untuk Regio SVD Ruteng, setelah berkaul kekal, Br. Yulius pun berangkat ke Ruteng untuk memulai tugas pelayanannya.   Mula-mula ia ditempatkan   di di Biara St. Yoseph, Ruteng sampai tahun 1971, kemudian dipindahkan ke Seminari Menengah Pius XII Kisol, di mana ia bekerja sampai tahun 1973, Keberadaannya di Regio SVD Ruteng cukup singkat, hanya sekitar empat tahun, karena pada tgl. 1 Juni 1973 ia dipindahkan kembali ke Regio SVD Ende.
Sekembalinya ke Regio SVD Ende, oleh Pater Regional SVD Ende ia ditempatkan di Biara St. Konradus untuk membantu Br. Laurens Wisang di kebun dan kandang Biara St. Konradus. Merasa kurang kesempatan untuk mengembangkan diri dalam bidang pertanian dan peternakan, pada tahun 1978 ia meminta untuk berpindah dari Biara St. Konradus. Setelah berunding dengan Bpk. Uskup Agung Ende, lewat surat tgl. 23 Nopember 1978 Pater Provinsial SVD Ende menempatkan Br. Yulius di Maumere. Selanjutnya Bpk. Uskup Agung Ende lewat surat tgl. 28 Nopember 1978 memberikan kepada Br. Yulius tugas dan tanggung jawab untuk mengurus perkebunan Dioses di kota Maumere.
Untuk menambah pengetahuan dan pengalamannya, Br. Yulius diberi kesempatan untuk  mendalami pertanian pada Kursus Pertanian Taman Tani (KPTT) Salatiga selama satu tahun dalam tahun 1982. Ketika kembali ke Maumere pada awal tahun 1983, atas permintaan P. Frans Nurak, SVD Br. Yulius  ditempatkan di Paroki Watubaing agar ia bisa memberi kursus dan penyuluhan pertanian bagi masyarakat sekitar. Karena itu lewat surat Bpk. Uskup Agung Ende tgl. 12 Pebruari 1983, Br. Yulius dibebaskan dari tugasnya di Perkebunan Dioses di kota Maumere, dan diperbantukan di Paroki Watubaing.
Sebenarnya dalam waktu yang bersamaan Seminari San Dominggo Hokeng mengharapkan agar Br. Yulius dapat ditempatkan di Seminari Hokeng. Harapan tersebut baru terpenuhi ketika pada tgl. 29 Desember 1983 Br. Yulius dipindahkan dari Paroki Watubaing, Keuskupan Agung Ende ke ke Keuskupan Larantuka untuk diperbantukan pada Seminari San Dominggo Hokeng. Ia pun kembali lagi  ke Seminari Hokeng, di mana ia diberi tugas  untuk   menangani kebun  Seminari.  Di samping tugas utamanya di Seminari, ia juga membantu masyarakat sekitar Hokeng lewat penyuluhan dan kursus-kursus pertanian.
Memperhatikan bantuan Br. Yulius bagi masyarakat sekitar, Bpk. Uskup Larantuka berpikir Br. Yulius  bisa berbuat lebih banyak bagi masyarakat lewat kursus dan penyuluhan pertanian yang ia berikan, dengan memanfaatkan sebidang tanah di Hokeng dan di Pagong yang telah diserahkan oleh Keuskupan Larantuka kepada Provinsi SVD Ende. Karena itu atas kesepakatan bersama antara Bpk. Uskup Larantuka dengan Pater Provinsial SVD Ende, pada tgl. 19 Desember 1993 Br. Yulius dibebaskan dari tugasnya di Seminari Hokeng, dan ditempatkan di Rumah Dioses (RUDI) Hokeng untuk maksud tersebut. Br. Yulius pun berpindah dari Seminari ke RUDI Hokeng, dan mulai menyelenggarakan kursus-kursus pertanian bagi masyarakat. Ia menjadikan kebun SVD di Hokeng dan di Pagong sebagai kebun contoh untuk pembelajaran masyarakat. Ia juga mengunjungi kebun-kebun masyarakat untuk memberikan pelatihan di tempat.
Untuk memperluas wawasannya dalam berinteraksi dengan masyarakat ia diberi kesempatan untuk mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Pendampingan Pemberdayaan Kaum Miskin (PPKM) di Muntilan, Jawa Tengah, yang diselenggarakan oleh para Suster Carolus Boromeus.
Karena kebutuhan Provinsi SVD Ende sendiri akan tenaga untuk mengelola kebuh SVD di Bhoanawa dan Ratedao, Br. Yulius akhirnya diminta untuk kembali ke Provinsi SVD Ende. Karena itu pada tgl. 19 Oktober 1995 ia  dibebaskan dari tugasnya di Hokeng, Keuskupan Larantuka, dan dipindahkan dari RUDI Hokeng ke Biara St. Yoseph, Ende. Ia selanjutnya diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengurus kebun SVD di Bhoanawa, Ende, dan di Ratedao, Nagekeo, dan berbasis di Bhoanawa.
Menjawab kebutuhan Komunitas Formasi Biara St. Konradus atas kehadiran tenaga senior di Lembaga Pendidikan dan Pembentukan Bruder, dan mempertimbangkan pengalaman hidup Br. Yulius, Pater Provinsial SVD Ende dengan persetujuan Dewannya pada tgl. 23 Januari 2002 membebaskan Br. Yulius dari tugas dan tanggung jawabnya atas kebun SVD di Bhoanawa dan Ratedao, dan menempatkannya di Biara St. Konradus. Br. Yulius pun berpindah dan menetap di Biara St. Konradus sejak permulaan tahun 2002 sampai bulan Mei 2015. Ia menjadi formator bagi para Bruder muda lewat contoh hidupnya, kesederhanaannya, ketaatannya, dan ketekunannya dalam doa dan kerja.   
Ketika fisiknya semakin menurun dimakan usia dan penyakit, dan praktis tidak bisa lagi menolong diri sendiri, Pimpinan Rumah Biara St. Konradus menganjurkan agar sebaiknya Br. Yulius dipindahkan ke Biara Simeon, Ledalero, di mana ada tenaga perawat yang dapat  memberikan perhatian dan perawatan yang lebih baik bagi Br. Yulius. Mempertimbangkan bahwa Biara Simeon merupakan tempat yang cocok bagi Br. Yulius, Pimpinan Provinsi SVD Ende lewat surat tgl. 15 Mei 2015 memindahkan Br. Yulius dari Biara St. Konradus ke Biara Simeon Ledalero. Br. Yulius pun diantar ke Biara Simeon, Ledalero, yang merupakan persinggahannya yang terakhir dalam pengembaraannya memenuhi panggilan dan kehendak Allah. Pada hari Sabtu pagi tgl. 5 Desember 2015 sekitar jam 05.00 pagi ia sampai pada titik akhir pengembaraannya, dan dengan tenang kembali ke haribaan Bapa di surga. 

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload

Follow Us