Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

KASIH KRISTUS YANG MENDESAK KITA

February 23, 2018

Pelayan Mesti Hindari Kesombongan

Ungkapan Paulus, kasih Kristus mendesak kami, harus dimengerti dalam konteks surat kepada umatnya di Korintus. Paulus mengungkapkan motivasinya yang mendalam mengapa ia menjalankan pelayanan bagi umat di Korintus dengan rela hati tanpa menuntut upah. Pelayanan yang dimaksud yakni tentang Kristus yang wafat untuk mendamaikan Allah dengan umatNya. Paulus mengingatkan kita bahwa pewartaan bukan untuk memperoleh pujian namun mesti didorong oleh kasih Kristus yang mendesak dari dalam. Ia sendiri mengalami kasih Kristus yang kuat melalui pengalaman pertobatan. Dalam suratnya yang lain kepada umat di Galatia, ia mengisahkan pengalamannya memperoleh kasih. Melalui kasih tersebut, dirinya yang berdosa didamaikan oleh Allah melalui rahmatNya. Pengalaman kasih yang begitu kuat tersebut membuat dirinya mesti mengungkapkannya kepada umat di Korintus.


Hal ini disampaikan oleh Pater Provinsial SVD Ende, P. Lukas Jua, SVD dalam Ekaristi pembukaan Kapitel XXIII Provinsi SVD Ende, Minggu (4/2/2018) di Kapela Transfiugurasi, Kemah Tabor. Turut hadir dalam ekaristi tersebut Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua, SVD didampingi oleh Pater Kletus Hekong, SVD sebagai anggota dewan Provinsi SVD Ende dan Pater Yohanes Porsi Nusa, SVD sebagai Rektor Wilayah Ngada-Nagekeo. Hadir juga dalam perayan ekaristi ini para kapitularis (imam, bruder, dan frater), Suster Provinsial SSpS Flores bagian Timur, para suster SSpS, para sahabat SVD (Kelompok Soverdian). Kapitel XXIII Provinsi SVD Ende berlangsung sejak Minggu-Sabtu (4-9/2/2018). Perayaan ekaristi ini dimeriahkan oleh kelompok koor Pustardos Mataloko.


Pater Lukas menyatakan, sebenarnya Paulus berhak dipuji dan mendapatkan upah dalam karya pewartaannya. Namun, ia tidak mencari hal tersebut, sebab tugas perutusan adalah suatu keharusan. “Paulus berkata, jika aku memberitakan Injil, tidak ada alasan bagiku untuk memegahkan diri. Tetapi apakah itu merupakan keharusan? Sebab kasih Kristuslah yang mendesaknya. Pengalaman kasih tersebut berawal di Gerbang Damaskus ketika ia mendengar suara panggilan Tuhan. Mengapa Engkau menganiaya aku? Pengalaman kasih Tuhan tersebut membuatnya mewartakan kasih Kristus,” ungkapnya.

 

Menghindari Kesombongan


Pater Lukas menambahkan, seorang pelayan mesti menghindari kesombongan. Sebab, kesombongan membuat seseorang lupa akan dirinya. Ia harus mencontohi Yesus dalam seluruh karya pelayanannya.
“Setelah melakukan penyembuhan, Yesus tidak tinggal lama di Kapernaum. Padahal, Ia sudah terkenal karena penyembuhannya. Mengapa ia tidak mau berlama-lama dan menikmati pujian, tetapi Ia mengajak para rasul untuk pergi? Mereka sadar akan bahaya pujian. Ketika berhasil seseorang  bisa tergoda menjadi sombong. Kesombongan bisa membuat orang lupa diri, lupa misi utamanya.Yesus sadar bahwa Ia dikasihi secara istimewa oleh BapaNya. Ia mengalami pengalaman tersebut ketika dibaptis di Sungai Yordan. Karena kesadaran jati diriNya, membuatNya mewartakan kasih BapaNya. Ia ungkapkan pewartaan itu dengan ungkapan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat,” tambahnya.

 

Menurutnya, kesadaran akan jati diri tidak terpisah dari misi. Sepeti Yesus kita perlu sadar jati diri kita. Dengan kesadaran jati diri tersebut, kita menyadari misi kita. Jati diri kita adalah sahabat-sahabat Sabda Allah, rekan–rekan Sang Sabda yang misinya jelas yakni mewartakan Sabda. Jadi, pewartaan kita mesti  keluar dari pengalaman akan Sang Sabda.
 

“Kesadaraan akan jati diriNya dimulai saat Ia berusia dua belas tahun di Bait Allah. Kesadaran kedua yakni ketika Ia dibaptis. Kita menyadari jati diri kita saat secara pribadi kita berdoa, seperti Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Pesannya bagi kita adalah hanya orang yang rendah hati yang bisa menyadari jati dirinya. Orang Farisi yang berdoa di Bait Allah tidak menyadari jati dirinya. Berbeda dengan Pemungut Cukai. Ia rendah hati dan menyadari jati dirinya. Kerendahan hati membuat kita sadar diri dan menilai orang lain secara objektif. Kedua, sebagai pengikut Kristus, kita sadar akan jati diri kita ketika kita pergi ke kesunyian dan berdoa. Hanya dengan berdoa dan bersikap rendah hati kita bisa menyadari Sabda Allah,” ungkapnya.
 

Pater Lukas berharap, para kapitularis dapat menjalankan kapitel sambil mendengarkan Sabda Tuhan melalui sesama dan kapitularis, doa dan liturgi. Menurutnya, hanya dengan sikap tersebut, keberakaran dalam sabda dan komitmen bagi misiNya menjadi kuat. Sementara itu, P. Hubert Thomas Hasuli, SVD, dalam penjelasan alur proses Kapitel XXIII Provinsi SVD Ende, menyatakan, Kapitel XXIII ini, merupakan lanjutan dari Kapitel XXII. Meskipun tema dan prosesnya berbeda. 

Tema kapitel kali ini adalah "Kasih Kristus mendesak kami, berakar dalam Sang Sabda, berkomitmen untuk misiNya”. Proses kapitel bertolak dari pengalaman misi, kemudian refleksi biblis dan tanggapan misi.
 

Share on Facebook