Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

BERAKAR DALAM SANG SABDA, BERKOMITMEN UNTUK MISINYA

March 8, 2018

 

Keberakaran dalam Sang Sabda dan komitmen untuk misi-Nya, yang merupakan tema Kapitel Provinsi SVD Ende yang baru lalu dan Kapitel Jenderal yang akan datang, sebetulnya adalah dua sisi dari kenyataan yang sama, karena keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. Semakin seseorang berakar dalam Sang Sabda, semakin kuat komitmennya untuk misi-Nya. Sebaliknya, semakin kuat komitmennya untuk misi, semakin dia terdorong untuk berakar dalam Sang Sabda. Dia akan masuk dalam lingkaran positif yang membuatnya semakin memberi diri untuk Tuhan dan misi-Nya; dan Sang Sabda di sini bukan hanya perkataan, melainkan terutama pribadi, Yesus Kristus, sabda yang telah menjadi daging.

 

Hubungan erat antara misi dan keberakaran dalam Sang Sabda bisa dipahami dengan bantuan metafor air hidup dan pohon yang tumbuh di tepi sungai dalam Yeh. 47:1-12. Air sungai yang mengalir dari Bait Allah memberi hidup kepada pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang sungai itu dan membuat pohon-pohon itu menghasilkan buah yang tidak habis-habisnya. Buah berlimpah ini hanya mungkin dihasilkan karena akar pohon-pohon itu berhubungan langsung dengan air, sumber hidup itu, yang tidak lain dari pada Allah sendiri yang hadir di tengah umat-Nya. Kita, para misionaris, bagaikan pohon-pohon itu, sedangkan Sang Sabda, adalah sumber air hidup. Selama kita bersatu dengan Dia, misi kita bisa menghasilkan banyak buah.

 

Metafor kedua yang lebih jelas mengungkapkan hubungan yang erat antara keberakaran dalam Sang Sabda dan komitmen misi ialah perumpamaan tentang pokok anggur dan ranting-ranting dalam Yoh. 15:1-17. Teks ini tidak hanya membantu kita untuk memahami kesatuan antara keberakaran dalam Sang Sabda dan komitmen misi, melainkan juga makna kata-kata Rasul Paulus: “Kasih Kristus mendesak kami” = Caritas Christi urget nos (2Kor. 5:14), yang merupakan bagian dari tema kapitel di atas.

 

Kebergantungan penuh pada Sang Sabda

 

Perumpamaan tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya menekankan kebergantungan total para murid pada Sang Pokok Anggur dalam bermisi, karena: “kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal dalam Aku” (Yoh. 15:4) dan “di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (15:5). Tekanan perumpamaan ini terletak pada ranting-ranting yang berbuah, bukan pada ranting yang tidak berbuah; dan tinggal dalam pokok anggur merupakan syarat mutlak bagi keberhasilan ranting-ranting, karena daya hidup bisa mengalir ke ranting jika dia tetap bersatu dengan pokoknya.

 

Kebergantungan total ranting pada pokok anggur mempunyai akibat bahwa kita, ranting-ranting, harus mengandalkan Sang Sabda dalam menjalankan misi-Nya, yaitu menghasilkan buah. Misi itu tetap milik Tuhan dan bergantung pada-Nya, kita hanya ranting-ranting atau pekerja-pekerja di kebun anggur-Nya, yang harus menyerahkan hasil pada waktunya. Pekerja di kebun anggur yang mengandalkan Tuhan “akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,...yang daunnya tetap hijau,...dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:8). Kesadaran akan makna misi ini membuat seorang misionaris tetap bisa menghasilkan banyak buah yang baik, meskipun daya fisiknya menurun, karena semakin dia lemah, semakin dia mengandalkan Tuhan. Semakin dia mengandalkan Tuhan, semakin banyak buah dihasilkan Tuhan melaluinya. Seharusnya semua misionaris, tua-muda, bertumbuh dalam keyakinan ini.

 

Pengaruh Ranting dan Buah terhadap Akar

 

Akar pohon bisa dikenal dari ranting dan buahnya. Semakin panjang jangkauan ranting semakin banyak makanan dibutuhkannya. Kebutuhan ini akan mendorong akar untuk bertumbuh semakin dalam dan meluas untuk mencari makanan tersebut. Misi yang menghasilkan banyak buah akan mendorong para misionaris untuk semakin berakar dalam Sang Sabda dan semakin bersemangat dalam mengabdi sesama. Laporan-laporan pengalaman dari berbagai komunitas dalam kapitel yang lalu menunjukkan bahwa pengalaman melayani orang-orang yang menderita membuat kehidupan rohani kita semakin kontekstual. Saudara-i yang menderita itu didoakan dalam ibadat harian dan kita semakin ingat akan sabda Tuhan: “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat. 25:40).

 

Kasih Kristus Mendesak Kita

 

Pengalaman keberakaran dalam Sang Sabda akan dengan sendirinya mendorong kita untuk semakin berkomitmen untuk misi-Nya. Menjalankan tugas perutusan apa saja tidak dirasakan sebagai beban yang terpaksa dipikul, melainkan sesuatu yang dengan rela dan dengan senang hati dijalankan, meskipun tugas itu berat. Kita akan mengalami seperti Rasul Paulus: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:13).

 

Kerelaan untuk memberi diri bagi misi Sang Sabda di atas merupakan buah dari pengalaman kasih, seperti dialami Dia yang mengutus kita: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu”  (Yoh. 15:9). Makna ungkapan “tinggal dalam Aku” paralel dengan “tinggal dalam kasih-Ku.” Kata “tinggal” di sini berarti “menuruti perintah-Ku” (15:9), yaitu “Kasihilah seorang akan yang lain” (15:17). Jadi “tinggal” mempunyai makna ganda: di satu pihak, artinya bersatu dengan Sang Sabda; di pihak lain, berarti menjalankan perutusan-Nya, yaitu berbuah banyak (15:8), terutama “saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu” (15:12).

 

Akhirnya, berkat bantuan rahmat Tuhan hendaknya kita berusaha untuk semakin berakar dalam Sanga Sabda, yang adalah kasih, baik sabda yang dijumpai dalam doa dan bacaan Kitab Suci maupun sabda yang dijumpai dalam saudara-i yang menderita.

Share on Facebook
Share on Twitter
Please reload