Provinsi SVD Ende

2018 Provinsialat SVD Ende, NTT, Indonesia

(C)copyright 2018 By CH95 Web Design

December 27, 2017

August 3, 2017

Please reload

Recent Posts

I'm busy working on my blog posts. Watch this space!

Please reload

Featured Posts

DEVOSI DAN KEBERAKARAN DALAM SANG SABDA

June 25, 2018

 

 

 

Para misionaris perdana berhasil mengajarkan devosi-devosi kepada umat di wilayah kita. Yang paling popular dan dipraktikkan secara teratur oleh banyak umat dan biarawan-wati ialah devosi kepada Bunda Maria. Selain devosi mariana, kita memelihara devosi kepada Roh Kudus melalui, antara lain, kesetiaan kita menyanyikan Veni Creator setiap pagi dan menjalankan Novena Pentekosta. Bagaimana dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus?

 

Devosi kepada Hati Kudus Yesus perlu mendapat perhatian khusus dalam kaitan dengan devosi baru yang sedang berkembang di dalam Gereja Katolik sejagat, termasuk Gereja di Indonesia, yaitu devosi kepada Kerahiman Ilahi. Selain itu, devosi ini bisa membantu kita untuk menghayati secara lebih dalam tema Kapitel Jenderal XVIII: “Kasih Kristus Menguasai Kami: Berakar dalam Sabda dan Berkomitmen untuk Misi-Nya.” Sebelum membahas devosi kepada Kerahiman Ilahi, baiklah kita mendalami makna devosi secara umum.

 

Mengapa devosi penting bagi umat dan bagi kita juga? Sejarah Gereja sejagat dan sejarah Gereja di wilayah kita menunjukkan bahwa iman Katolik bertahan karena devosi. Hampir dua abad Gereja Katolik di Nusa Tenggara tidak memiliki imam dan biarawan-wati yang tetap, tetapi iman banyak umat, terutama di Sikka dan Flores Timur tidak hilang. Ketahanan iman ini disebabkan terutama karena umat sudah terbiasa mempraktikkan devosi kepada Bunda Maria melalui doa Rosario, di samping prosesi Pekan Suci. Devosi ini pula yang membuat iman umat bertahan sampai sekarang, khususnya di tempat-tempat yang sulit dikunjungi secara teratur oleh para imam.

 

Selain segi sejarah, devosi penting bagi kita karena berkaitan dengan kaul. Kata devosi berasal dari dua kata Latin, yaitu de = berhubungan dengan; dan kata vovere = mengikrarkan atau menjanjikan secara resmi. Selain itu vovere juga berarti menyerahkan diri (kepada yang ilahi, atau bagi negara). Dari kata vovere muncul kata votum = kaul; suara atau pilihan yang diberikan secara resmi. Dari kata Latin vovere ini muncullah dua istilah Bahasa Inggris: vow (kaul) dan to vote (memberikan suara, memilih). Jadi dari segi asal kata, makna pertama devosi berhubungan dengan kaul atau janji yang diungkapkan secara resmi.

 

Makna kedua, devosi berarti menyerahkan diri kepada yang ilahi. Pada zaman prakristiani, terdapat devosi kepada dewa-i. Tetapi, sejak agama Katolik berkembang, devosi itu ditujukan kepada Tuhan dan sifat-sifat-Nya. Devosi juga ditujukan kepada orang kudus tertentu, terutama Santa Perawan Maria, St. Yosef dan santo santa lainnya. Dari segi ini, dapat dikatakan bahwa devosi-devosi memainkan peranan penting bagi munculnya banyak kongregasi religius. Kita sebagai misionaris-religius adalah orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan misi-Nya; dengan kata lain orang yang berdevosi kepada Allah.

Makna ketiga, devosi selalu berkaitan dengan janji untuk melakukan sesuatu. Seseorang yang berdoa kepada Bunda Maria bisa berjanji, misalnya, jika doanya dikabulkan, dia akan mendirikan sebuah gua Maria dan berdoa Rosario setiap hari. Berdoa rosario setiap hari merupakan tindakan devosional, dalam arti, suatu pemenuhan janji kepada Bunda Maria. Di sini tampak juga sebuah unsur penting lainnya dari devosi, yaitu keteraturan. Suatu perbuatan rohani disebut devosi jika dijalankan secara tetap, bukan hanya sesekali.

 

Bagaimana devosi kita sebagai SVD? Selain devosi mariana yang umum, kita perlu memajukan tiga devosi khusus: Pertama, devosi kepada Sang Sabda. Nama Serikat kita dan kehendak Tuhan yang diungkapkan lewat tema keberakaran dalam sabda dari Kapitel Jenderal XVIII menuntut dari kita suatu pembaruan hubungan kita dengan Sang Sabda. Pembaruan itu terutama melalui penyerahan diri lebih total kepada Tuhan, yang ditunjukkan, antara lain, melalui pembacaan Kitab Suci setiap hari secara pribadi, sharing Kitab Suci secara berkala, dan Lectio Divina sampai dengan tahap kontemplasi. Ini merupakan salah satu resolusi Kapitel Provinsi XXIII di Mataloko.

 

Kedua, devosi kepada Kerahiman Ilahi. Sabda Tuhan yang utama dan harus meresap ke dalam hati kita ialah sabda tentang kerahiman ilahi, karena Allah sendiri mewahyukan diri-Nya di gunung Sinai sebagai: “TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya ... yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa” (Kel. 34:6-7a). Teks yang mengungkapkan jati diri Allah ini dikutip dalam berbagai kitab para nabi dan mazmur. Atas dasar pengakuan iman bahwa Allah itu belas kasih, Yesus bersabda: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk. 6:36). Sabda ini ditunjukkan-Nya dalam penyembuhan-penyembuhan orang sakit dan perbanyakan roti, di mana sering kita temukan ungkapan bahwa “Dia melakukannya karena tergerak oleh belas kasihan”.

 

Saya yakin, di tengah dunia di mana radikalisme agama semakin berkembang, Tuhan menghendaki agar kita memajukan devosi kepada Kerahiman Ilahi. Selain itu, Tuhan menyampaikan kehendak-Nya ini melalui umat sederhana yang menjalankan devosi ini, seperti saya saksikan sendiri di Taman Kerahiman Lengkosambi pada Pesta Kerahiman Ilahi 2018. Hal yang sangat mengesankan saya ialah bahwa sekitar 800 peziarah dari berbagai paroki di wilayah Ngada dan Nagekeo menghadiri Ekaristi hari itu. Mereka datang berziarah secara spontan sejak hari Sabtu menjelang hari Minggu Kerahiman. Kehadiran umat yang relatif banyak, tanpa diorganisir oleh panitia tertentu, membuat saya terus bertanya: “Apa yang dikehendaki Tuhan dari kita SVD melalui tanda-tanda di atas?”

 

Kenyataan di atas meyakinkan saya bahwa SVD harus memajukan devosi kepada Kerahiman Ilahi. Apalagi St. Arnold Janssen sendiri sangat kuat berdevosi kepada Hati Kudus Yesus yang maharahim dan menghendaki putra-putrinya melakukan yang sama. Secara lebih khusus, kita harus mengembangkan Taman Kerahiman sebagai tempat ziarah yang lebih layak dan mampu menampung lebih banyak peziarah. Dia harus dikembangkan sekian sehingga sungguh menjadi taman di mana umat mengalami keindahan kerahiman Allah.

 

Ketiga, kedua devosi di atas harus dilengkapi dengan devosi kepada orang miskin. Tentu tidak dimaksudkan agar kita menyembah orang miskin, tetapi memberi diri bagi Allah dalam orang miskin. St. Teresia dari Kalkuta memberi teladan kepada kita bagaimana menjaga keseimbangan antara devosi-devosi ini. Dia memberi banyak waktu bagi pelayanan kepada orang miskin, tetapi juga meluangkan waktu yang cukup untuk duduk di kaki Tuhan. Dengan ini, devosi akan membantu kita untuk semakin berakar dalam Sang Sabda.